Wednesday, March 23, 2011

RASIONALITAS DAN SAINS DI SEKITAR KITA


Beberapa tahun lalu, harian Kompas membuat daftar film-film Indonesia terburuk sepanjang tahun 2006. Salah satu diantaranya mendapat komentar kira-kira begini,”Film yang dibuat oleh orang yang tidak tahu mau berbuat apa dengan kecanggihan teknologi masa kini sementara jiwanya masih diliputi takhayul.” Menggelikan sekaligus menyedihkan. Sebenarnya tidak hanya sutradara atau penulis film tersebut yang tidak tahu harus berbuat apa dengan kemajuan teknologi masa kini. Sebagian besar bangsa ini mungkin demikian. Lihatlah acara saluran-saluran televisi di negeri ini. Televisi, yang bagi rakyat kebanyakan merupakan satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan yang terjangkau karena tidak harus dibeli, hanya berisi takhyul, mimpi, komedi dan gosip. Teknologi tidak dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan, melainkan hanya untuk memberikan hiburan dangkal dan informasi tentang kejahatan serta politik.

Beberapa bulan yang lalu, saya terkesan dengan ketidaktahuan salah seorang rekan kerja dan beberapa peserta akan alam semesta. Sehabis mendengarkan penjelasan di sebuah trainng yang memberikan gambaran akan luasnya alam semesta dan kedudukan bumi di dalamnya, mereka baru sadar, betapa kecil, rapuh dan tidak berartinya bumi di alam semesta. Mengherankan, bahwa sampai setua itu mereka tidak mengetahuinya. Jika mereka yang berpendidikan tinggi saja seperti itu, bagaimana dengan rakyat kebanyakan? Bagaimana mengharapkan mereka untuk mengendalikan kelahiran, menjaga kelestarian lingkungan, jika mereka tidak tahu apa-apa tentang sains yang paling dasar sekalipun? Bagaimana negeri ini tidak akan rusak? Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Carl Sagan, ilmuwan AS, menulis buku dan membuat serial televisi berjudul “Cosmos” agar rakyat Amerika mengenal alam semesta dan sains. Tujuannya hanya satu : menggugah kesadaran masyarakat, bahwa kita tidak hanya bisa menyerahkan diri pada nasib, atau doa-doa, tetapi harus berbuat sesuatu jika ingin tetap survive di bumi ini, dan jalan yang paling dewasa adalah dengan lebih menghargai sains, karena hanya itu satu-satunya yang dapat kita andalkan selama ini. Penonton setia televisi akan hafal, betapa seringnya film-film Hollywood diputar di televisi berkali-berkali untuk judul yang sama dalam jarak berdekatan. Tapi pernahkah mereka menonton bahkan sekedar mendengar film sejenis Cosmos diputar di televisi? Pernahkah mereka menonton salah satu ilmuwan, baik dalam atau luar negeri yang memberikan penjelasan tentang sains dasar, satu kali saja? Mungkin tidak pernah, karena memang tidak ada acara semacam itu, yang ada adalah penjelasan dari para ulama/pendeta atau dokter.

Tidak ada yang salah dengan penjelasan dari agamawan. Namun tanpa keseimbangan, rakyat tidak akan menyadari bahaya yang sebenarnya mereka hadapi. Mereka tidak mengerti, dan tiba-tiba terkena bencana. Padahal jika mereka diberikan informasi terus-menerus secara memadai, mungkin bencana dapat dikurangi atau dihindari. Hari-hari ini para ilmuwan sibuk memperingatkan akan bahaya pemanasan global. Beberapa minggu yang lalu organisasi lingkungan hidup sedunia memperingati hari air, dan Indonesia diusulkan menjadi pemegang rekor sebagai penghancur hutan tercepat di dunia. Tapi berapa persen masyarakat disini yang sungguh-sungguh memikirkan hal ini? Bahkan di Amerika, kaum fundamentalis Kristen (termasuk Presiden Bush) tidak begitu peduli, karena percaya bahwa Tuhan akan selalu menjaga bumi untuk manusia.

Banyak yang tidak percaya bahwa kita harus bersikap rasional, dan masih memegang ajaran lama yang hanya cocok untuk ribuan tahun lalu. Bayangkan jika ajaran untuk beranak pinak sebanyak-banyaknya memenuhi bumi (karena Tuhan akan memberi rezeki kepada masing-masing) masih diterapkan di zaman sekarang dimana bumi telah penuh sesak dan sumberdaya semakin terbatas. Bukankah hal itu justru akan menimbulkan bencana, karena akan semakin banyak hutan dihancurkan untuk tempat tinggal atau pertanian? Jared Diamond dalam bukunya “Collapse” memberi contoh beberapa masyarakat yang hancur karena pesatnya pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan kerusakan lingkungan karena daya dukung alam tidak lagi mencukupi. Indonesia memenuhi persyaratan untuk collapse (gagal). Namun semua masih bersikap tenang, berpikir bahwa doa yang banyak akan bisa mengatasi semua permasalahan. Sains? Rasio? Apakah itu?


Pergilah ke toko buku. Cobalah kalau bisa temukan satu buku tentang sains, tentang cara berpikir rasional, skeptis, kritis (seperti yang dipersyaratkan sains) untuk masyarakat awam (bukan anak-anak). Hampir bisa dipastikan, sulit sekali menemukannya, itupun kalau ada. Sebagai bangsa konsumen, kita hanya suka yang mudah-mudah. Kita selalu hanya mengambil kulit luarnya, misalnya mengikuti trend mode pakaian baru atau teknologi dan gadget terbaru. Tapi alam pikiran kita masih belum berubah. Masih percaya takhyul, malas membaca, kurang memiliki rasa ingin tahu, takut berpikir kritis dan rasional, dan sejenisnya. Jadinya ya seperti di awal tadi... teknologi digunakan untuk membuat film takhyul yang tidak bermutu atau menyebarkan ideologi yang membawa kemunduran. Menyukai teknologi, tapi curiga dan membenci mereka yang berpikir rasional, skeptis dan kritis. Maka jadilah bangsa konsumen, pemarah dan mudah tersinggung....

Monday, October 19, 2009

Suatu hari di Gramedia


Generasi 80-an tentu semua akrab dengan Gramedia. Ketika internet belum lazim, stasiun televisi hanya satu-satunya, informasi sangat terbatas karena sensor yang ketat, jumlah penerbit yang aktif dapat dihitung dengan jari, dan toko buku asing cenderung hanya menjual buku teks, maka Gramedia – dan Gunung Agung – adalah dua toko buku yang menjadi harapan terbesar mendapatkan buku-buku yang baik.
Ketika Balai Pustaka dan Pustaka Jaya mulai meredup, penerbit Gramedia memperkenalkan cerita-cerita klasik dengan komik Album Cerita Ternama, buku seri Elang, seri Kancil dan seri Cerita dari Lima Benua, novel pop terjemahan, dan pengantar filsafat yang ditulis beberapa budayawan dan pastur. Bisa dikatakan, Gramedia menemani generasi 80-an tumbuh dewasa, dengan memberikan bacaan yang cukup baik di tengah situasi yang terbatas pada saat itu.
Kini, generasi berikutnya masih didampingi oleh Gramedia, yang kini menjadi toko buku dan penerbit terbesar dengan jaringan toko di seluruh Indonesia, bahkan konon memiliki toko buku terbesar di Asean. Gramedia juga memiliki semboyan baru, yang tertulis pada tas plastik birunya yang elegan Enlightening and enriching the mind.., dan A place for smart people. Setiap akhir pekan, hampir seluruh tokonya seperti pasar yang dibanjiri keluarga dan pembeli, meninggalkan para pesaingnya dalam kesepian karena sedikitnnya pengunjung.
Pertanyaannya, di luar kemegahan toko-tokonya di seluruh Indonesia, benarkah ia telah membawa peran “enlightening and enriching the mind” ?

Buku apakah yang dijual Gramedia?
Pencerahan ialah bila seseorang dapat memperoleh pandangan dan pemikiran baru yang mempertanyakan kembali segala sesuatu yang dianggap telah mapan, pengetahuan yang mengarahkan kepada pencarian kebenaran, rasionalisme dan sikap kritis.
Dapatkah buku sejenis ini kita temukan disana?
Untuk itu saya mengunjungi salah satu tokonya yang cukup besar yaitu di Grand Indonesia yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk buku lokal, dan lantai kedua untuk buku impor. Bagian ini didominasi oleh buku manajemen, bisnis dan komputer, kemudian ada buku parenting, hobi, kesehatan, agama. Pilihan buku-buku yang sangat pragmatis: buku untuk membantu menjalankan hidup sehari-hari: bisnis, menjadi orang tua, menjaga kesehatan, mengisi waktu luang. Dimana buku yang dapat memberi saya pengetahuan tentang cara bekerjanya alam, kehidupan, pemikiran baru yang mencerahkan (mempertanyakan hal-hal yang telah mapan)?
Mungkin ada namun saya tak dapat menemukannya. Maka saya bertanya kepada bagian informasi,”Adakah buku Richard Dawkins terbaru, The Greatest Show on Earth?” Di layar komputer tidak tampak, berarti tidak ada. Di toko buku impor yang lain, buku ini sudah terpajang sejak beberapa minggu sebelumnya.
Buku-buku yang mencerahkan yang ditulis Jared Diamond, Michio Kaku, Carl Sagan, Richard Dawkins, E.O. Wilson, bahkan Sam Harris atau Christopher Hitchens tidak dapat ditemukan di bagian buku impor Gramedia, meskipun bertebaran di toko-toko buku impor lainnya seperti Periplus, Aksara dan Kinokuniya. Demikian pula buku-buku klasik tidak dapat ditemukan. Tidakkah buku-buku semacam itu yang sebenarnya mencerahkan dan memperkaya pemikiran? Mengapa Gramedia yang demikian megah dan berjaringan luas tidak menjualnya?
Di bagian buku lokal, terjemahan River Out of Eden diletakkan di bagian buku sastra. Mungkin karena judulnya berbau sastra? Sungai dari Firdaus mungkin seperti judul sebuah novel. Atau karena memang tidak ada tempat khusus untuk buku sains populer? Karena saya tidak menemukan buku sains populer yang lainnya.
Di lantai tempat buku lokal, area untuk buku agama menempati ruang yang cukup luas dan mudah dilihat. Mungkin memang bagian inilah yang paling diminati pengunjung, disamping fiksi.
Selain buku agama, bagian buku lokal menyediakan novel pop terjemahan dan chicklit, buku anak, sejarah, biografi, sosial politik, masakan dan kerajinan tangan, interior, kesehatan, bisnis dan motivasi, komputer dan buku pelajaran sekolah. Buku-buku yang berguna dan aman, namun tidak mencerahkan.

Beban Menjadi Besar
Kebebasan berpikir memerlukan bantuan bacaan yang mencerahkan, namun pencerahan merupakan suatu penyadaran: pemberitahuan bahwa ada pengetahuan atau pemikiran yang berbeda dari yang selama ini diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran, yang kebenarannya dapat diteliti sendiri oleh pembaca berdasarkan bukti-bukti atau argumentasi yang disodorkan dalam buku, bahwa sikap rasional dan kritis adalah penting dan perlu. Bacaan mencerahkan seringkali tidak sejalan dengan konservatisme dan kemapanan.Oleh karena itu menjual buku yang mencerahkan mengandung risiko.
Buku-buku yang dianggap “berbahaya” biasanya dapat ditemukan di toko-toko buku kecil, karena mereka kurang dikenal, atau pelanggannya terbatas pada segmen tertentu, sehingga dapat menanggung risiko lebih besar. Jika terjadi sesuatu, kerugian yang mereka alami akan lebih kecil dari toko buku besar. Mungkin itu sebabnya toko berjaringan besar hanya menjual buku yang aman. Karena bila terjadi sesuatu, kerugian yang harus ditanggung akan lebih besar: sorotan publik, yang akan mempengaruhi reputasi dan selanjutnya kunjungan, keamanan gedung-gedung, nasib ratusan pegawai....
Dari sisi ini dapat dimengerti bahwa maksud baik KPG menerjemahkan buku River Out of Eden harus dipromosikan sebagai buku yang akan meningkatkan keimanan pembaca, dan menyembunyikan fakta bahwa penulisnya adalah seorang hard ateis yang berjuang menyebarkan rasionalisme dengan bukti-bukti dari biologi serta kritik keras terhadap agama formal. Penerjemahan buku ini mungkin juga merupakan suatu pengorbanan, karena tampaknya buku ini tidak sukses di pasar.

Enlightening and Enriching the Mind
Toko buku yang berjaringan luas dapat berperan mencerahkan masyarakat jika ia menyediakan buku-buku yang mencerahkan pula. Namun sebagaimana kita lihat, peran itu tidak diambil oleh Gramedia, yang memilih untuk bersikap sangat menjaga keamanan, dengan hanya menjual buku-buku yang datar dan mendukung konservatisme, tidak memberikan alternatif pemikiran yang lain, bahkan tidak menjual buku-buku klasik, kecuali yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sangat disayangkan.
Untunglah kini dengan majunya teknologi informasi, pembaca dapat memperoleh informasi dan membeli buku apa saja yang diinginkan tanpa harus ke toko buku. Namun tetap disayangkan bahwa slogan enlightening and enriching the mind sebenarnya belum disandang oleh Gramedia...




Thursday, July 16, 2009

Arti dan Ketiadaan

Artikel berikut adalah dari Free Inquiry magazine, Volume 22, Number 1.

Diterjemahkan dari situs Secular Humanism:
Meaning and Nothingness -
A personal journey
by James A. Haught
Orang muda pencari kebenaran berjalan melalui tahap bertanya-tanya apakah hidup memiliki arti yang nyata. Mengapa kita disini? Mengapa alam semesta disini? Apakah ada tujuan dari semua ini? Ini adalah pertanyaan terakhir, meliputi yang lainnya.
Para pencari biasanya terjun dalam filsafat, dan menghabiskan bertahun-tahun bersusah payah membahas “keberadaan” dan “esensi” dan berdebat tentang bagaimana pikiran mendapatkan pengetahuan, bagaimana kita menentukan realitas, dan bagaimana bahasa membentuk pengertian kita.

Pada akhirnya, sebagian besar muncul (seperti yang terjadi pada saya) dengan jawaban yang tidak lebih baik dari ketika memulai – dan perasaan bahwa mereka telah memboroskan banyak waktu dan usaha. Omar Khayyan merasakan hal yang sama sembilan ratus tahun yang lalu:

Diriku ketika muda bersemangat mengunjungi mahaguru dan santo,
dan mendengarkan perdebatan agung
Tentang ini dan itu, namun selamanya
Muncul dari pintu yang sama seperti saat ku masuk

Bagaimanapun, meski sia-sia, saya pikir setiap orang cerdas dapat menunjuk pertanyaan mengenai arti hidup dengan rasional tanpa berkutat dalam rincian filosofis dan argumen. Itulah apa yang akan saya lakukan sekarang: hanya mengatakan apa yang dapat diketahui, sebagaimana saya melihatnya. Berikut adalah pandangan pribadi saya yang bersifat amatir.

Pertama, 90% umat manusia – penganut agama – tidak perlu bertanya mengenai arti hidup. Gereja mereka memberi mereka jawaban. Pendeta dan kitab suci mengatakan bahwa Tuhan yang magis, tak terlihat, menciptakan alam semesta dan menempatkan manusia disini untuk diuji, menetapkan peraturan untuk perilaku kita guna diikuti, dan menciptakan surga sebagai balasan bagi mereka yang mengikuti petunjuk setelah mereka mati serta neraka untuk tempat penyiksaan bagi pelanggar perintah setelah mereka mati. Beberapa penjelasan supernatural seperti ini diterima oleh mayoritas luas manusia.

Namun sebagian dari kita tidak dapat menelannya, karena tidak ada bukti. Tak seorangpun pernah membuktikan bahwa manusia terus hidup sesudah kematian. Tak ada yang dapat membuktikan bahwa manusia disiksa atau diberikan balasan atas kebaikannya di dunia kematian – juga tidak bahwa ada jiwa tak terlihat yang menyiksa dan memberi balasan.

Oleh karenanya, manusia yang tak mudah diyakinkan, yang dikutuk menjadi pencari kebenaran, selalu mencari arti hidup namun tidak pernah menemukannya. Saya telah melaluinya selama setengah abad. Sekarang, saya pikir saya dapat menyatakan bahwa terdapat dua jawaban jelas: (1) Hidup tak memiliki arti. (2) Hidup memiliki ribuan arti.

Pertama, kurangnya arti: tentang tujuan akhir atau transcending moral order, semua pemikir besar sejak zaman Yunani kuno telah gagal menemukannya. Telah ada teori tak terbatas, tapi tak ada jawaban jelas. Martin Heidegger menyimpulkan bahwa kita dikutuk untuk menghidupi seluruh hidup kita dan mati tanpa pernah mengetahui mengapa kita disini. Itulah eksistensialisme: semua yang sungguh-sungguh dapat kita ketahui ialah bahwa kita dan dunia material ada (eksis).

Ketika kita mempelajari fakta ilmiah kita menyadari bahwa kosmos dan biosfir kita tampak sangat tak peduli dengan kemanusiaan, dan tak peduli apakah kita kita hidup atau mati. Gempa bumi, topan dan letusan gunung berapi tak peduli apakah mereka mengenai atau tidak mengenai kita. Singa, cacing pita, dan bakteria menganggap kita makanan.

Mengenai moralitas, saya tidak berpikir hal itu ada terlepas dari manusia. Itu hanyalah peraturan-peraturan yang dikembangkan kebudayaan untuk diri mereka sendiri dalam upayanya untuk membuat hidup dapat berjalan baik.

Kaum konservatif berbicara mengenai “hukum alam”, namun sebenarnya tidak ada. Jika orang Ku Klux Klan menggantung orang hitam di cabang sebuah pohon, pohon tak peduli. Tidak juga tupai dan burung-burung di dahan. Tidak juga matahari atau bulan di atas. Alam tak peduli. Hanya manusia peduli.

Atau pikirkan hak-hak manusia. Thomas Jefferson mengatakan bahwa semua orang “diberikan oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak dapat diambil atau dirampas.” Tapi saya pikir Jefferson salah. Tidak ada bukti bahwa Pencipta mengkaruniai seseorang dengan suatu hak-hak yang diberikan Tuhan. Hak-hak tak terampas apa yang dinikmati oleh orang hitam Afrika yang dijual ke perbudakan – termasuk mereka yang terdapat di perkebunan Monticello Jefferson? Hak-hak pemberian Tuhan apa yang menjamin enam juta bangsa Yahudi ke kamp kematian Nazi? Atau sejuta kelas menengah Kamboja yang dibunuh tentara petani Pol Pot? Atau satu juta suku Tutsi yang dibunuh Hutu? Atau anak-anak Uster yang dibunuh oleh bom kaum Katolik dan Protestan? Atau penduduk Hiroshima pada tahun 1945? Atau sekitar satu juta perempuan yang dibakar sebagai penyihir oleh Inkuisisi?

Apakah arti hidup bagi jutaan yang sekarat karena AIDS, jutaan yang mati karena epidemi flu tahun 1918 atau Wabah Hitam, atau 900 orang yang memberikan sianida kepada anak-anaknya di Jonestown, atau 90 orang yang terbakar dengan anak-anaknya di kamp David Koresh? Apa arti yang ada bagi ribuan rakyat Honduras yang tenggelam dalam badai banjir dua tahun yang lalu? Atau enambelas murid taman kanak-kanak yang dibunuh oleh seorang psikopat dengan pistol? Atau dua ribu perempuan Amerika yang dibunuh oleh suami atau kekasihnya setiap tahun? Atau dua puluh ribu bangsa Aztec yang setiap tahun dikorbankan untuk ular terbang yang tak terlihat? Atau dua puluh ribu yang dicekik kaum Thugs untuk dewi mereka Kali?

Tak berarti, tak berguna (senseless), pointless – semua horror ini memiliki absurditas yang fantastis tentangnya. Kata-kata seperti tujuan, hak, dan moral tak dapat dipakai. Kejahatan seperti ini membuat jelas dengan logika sederhana bahwa tidak ada Tuhan ayah yang maha kasih, penyayang, pengampun. Akal sehat membuktikan bahwa Tuhan dermawan modern adalah fantasi yang sebenarnya tidak ada.

Dalam bukunya Consilience, ahli sosiobiologi besar E.O. Wilson menunjuk bahwa terdapat dua cara mendasar dalam melihat realitas: empirisme, hanya mempercayai apa yang diberikan oleh bukti, dan transendentalisme, mempercayai bahwa ketuhanan or hukum (order) moral kosmik eksis terlepas dari manusia. Jika ada bukti yang pernah mendukung yang terakhir, katanya, “Penemuan akan menjadi sangat berarti dalam sejarah manusia”.

Cukup untuk pengenalan bahwa hidup adalah tak berarti. Sekarang untuk realisasi bahwa hidup memiliki banyak arti.

Jelas, realitas fisika, biologi, kimia, atom, sel, zat, radiasi – alam, dengan kata lain – memaksakan keteraturan fisik pada kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari hukum alam yang mengatur bintang-bintang pada planet yang mengorbit. Kematian lebih besar dari kita; kita tidak dapat mencegahnya. Karenanya, apapun arti yang ada harus digunakan untuk waktu sementara sewaktu kita hidup.

Jelas, terdapat tujuan fisik dan psikologis untuk hidup. Tubuh kita memerlukan makanan, pakaian,tempat berlindung, kesehatan, kenyamanan kasih sayang, dan keamanan dari kekerasan dan pencurian, dan seterusnya. Kita juga memerlukan hubungan dan reaksi sosial yang bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita. Dan kita memerlukan kebebasan demokratis agar kita dapat bicara jujur tanpa takut hukuman, dan hukum supaya kita tidak akan diperlakukan secara kejam. Ini adalah tujuan humanis dalam hidup: untuk memberikan nutrisi yang lebih baik, obat-obatan, perumahan, transportasi, pendidikan, keamanan, hak asasi, dan kebutuhan manusia lainnya.

Untuk mencapai “kehidupan baik” humanis, manusia memiliki kebutuhan tinggi untuk membesarkan anak-anak yang cerdas, sehat, perhatian, dan bertanggung jawab. Kadangkala, saya berpikir bahwa satu-satunya tujuan terbesar dalam hidup ini ialah membesarkan anak-anak yang baik.

Saya pikir kita memberi persetujuan mengenai arti hidup secara biologis psikologis. Kita percaya dalam hal mencegah peperangan, menyembuhkan penyakit, mengakhiri kelaparan, meningkatkan literasi, mengurangi kejahatan, menghindari kekurangan makan, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang membuat hidup menyenangkan – sampai kematian mengambil kita. Bagaimanapun, disamping dari tujuan berjenis “pekerjaan rumah tangga”, adakah arti yang lebih besar yang melampaui kebutuhan manusia? Saya pikir tidak. Paling tidak, saya tidak pernah dapat menemukan bukti apapun tentang itu. Kita hanya harus mencoba membuat kehidupan sebaik mungkin, dan menghindari horror, dan perhatian pada orang lain, dan membuat kegembiraan, meskipun tahu kekaburan sedang menjelang.

Tanam jerami selagi matahari bersinar, karena kegelapan menjelang. Carpe diem: renggut hari untuk saat ini; hidup sepenuhnya selagi anda bisa. Omar Khayyam melihat kebodohan dari mengagungkan diri sendiri, karena kebangkrutan atau sakit akan segera menghapus seseorang:”Bodoh, balasanmu tidaklah disini atau disana”. Jadi penyelesaian Omar adalah mencari kesenangan dalam puisi, anggur, dan kekasihnya “disampingku menyanyi dalam hutan belantara – dan hutan belantara cukup surgawi.” Sekitar 1400 tahun sebelum dia, skeptik besar Yunani Epicurus merasakan hal yang sama.

Jadi ini yang anda dapat: Kita yang bukan kaum ortodoks religius tidak dapat menemukan alasan yang mendasari eksistensi/keberadaan. Dan kita tahu bahwa kematian merangkak di depan. Jadi kita harus membuat masa antara sebaik mungkin sementara kita disini. Pandangan akan tujuan hidup seperti ini diringkaskan beberapa tahun yang lalu oleh judul seminar Unitarian:”Menari di Ngarai Gelap”. Dan Zorba Yunani mengajar kita, Apakah hidup, jika bukan untuk menari?

Indoktrinasi, Skeptisisme, Informasi

Ada seorang pembaca blog ini yang menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan indoktrinasi, hipnosis, selama maksudnya baik, dan skeptisme harus dihindari.
Baiklah. Mengapa saya tidak setuju dengan indoktrinasi, hipnosis?

Indoktrinasi ialah pengajaran kepada seseorang atau sekelompok orang tanpa memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk bersikap kritis. Dengan demikian indoktrinasi menutup diri dari pertanyaan, penelitian dan ketidakpercayaan. Setiap pertanyaan yang meragukan kebenaran doktrin yang diajarkan adalah tabu, tidak patut dan dosa. Hipnosis adalah salah satu metode untuk menanamkan indoktrinasi, dengan melumpuhkan syaraf-syaraf kesadaran dan rasio agar ajaran mudah masuk ke dalam otak tanpa disadari oleh pihak lain, sehingga tidak ada perlawanan. Metodenya antara lain melalui pembangkitan emosi, sehingga rasionalitas dan daya kritis seseorang diharapkan menghilang. Dengan demikian keduanya bersifat paksaan.
Sejak kecil, anak-anak telah didoktrin dengan ajaran tentang kepercayaan orang tuanya masing-masing secara intensif. Saya katakan didoktrin, karena tidak seperti ilmu pengetahuan alam atau ilmu sosial, dimana pertanyaan apapun tidak dilarang bahkan murid ditantang untuk membuktikan kebenaran pernyataan atau teori yang diajarkan, dalam hal kepercayaan, pertanyaan kritis dilarang, dan ketidakpercayaan bahkan keraguan saja diancam dengan pembakaran dalam neraka untuk selama-lamanya serta penghinaan dan pengucilan dari masyarakat. Disini doktrin memanfaatkan rasa takut untuk menanamkan ajaranya.
Sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk tidak bertanya dengan kritis, untuk takut berpikir bebas atau berbeda, untuk belajar menerima apapun yang diajarkan betapapun absurd dan bertentangan dengan logika dan fakta empiris. Itu sebabnya, para orang tua berusaha keras mengajarkan kepercayaannya kepada anak-anak sejak sedini mungkin. Sebelum mereka mengetahui apapun, mereka telah diberikan pengetahuan yang tidak terbantahkan kebenarannya dan tidak boleh dipertanyakan lagi. Pengetahuan, yang akan menjadi kepercayaan mereka di masa dewasa ini, akan menyelamatkan jiwa dan hidup mereka.
Kita hidup dalam dunia informasi yang bias. Jika seseorang malas belajar, puas dengan hidup ini dan tidak ingin mengetahui lebih banyak, dunia hanya memberikan informasi dari satu sisi. Yaitu informasi yang sesuai untuk sifat massa. Informasi tersebut belum tentu benar, namun dapat diterima massa karena bersifat menenangkan dan menghibur. (Ingat budaya massa?)
Pengetahuan dan kebudayaan berkembang, namun perkembangan itu seringkali perlahan, dan tidak semua orang dapat mengaksesnya pada saat awal perkembangannya.
Bayangkan anda hidup di zaman tidak lama setelah Galileo. Ketika itu semua orang masih percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta, karena demikian yang tergambar dari kitab suci dan dipercaya oleh gereja. Sebagian besar orang tidak mengetahui, bahwa sebenarnya bumilah yang mengitari matahari. Sudah tentu sebagian besar masyarakat juga mendukung gereja, yang menghukum Galileo atau siapapun yang berpendapat tidak sama dengan kepercayaan yang dianut masyarakat waktu itu. Kini kita mengetahui, bahwa masyarakat banyak itu, dan otoritas, salah. Dan perlu ratusan tahun hanya untuk memperjuangkan hal tersebut. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran:
Pendapat otoritas belum tentu benar
Pendapat mayoritas publik (massa) bisa salah.
Kitab suci tidak menceritakan sesuatu yang berarti tentang alam semesta
Kejadian di atas berulangkali terjadi. Setelah astronomi, kemudian kedokteran, lalu biologi. Kejadiannya sama. Mula-mula mereka menolak, kemudian karena bukti-bukti tidak dapat dibantah lagi akibat terlalu banyak, akhirnya terpaksa mengakui.
Namun kejadian-kejadian di atas membuka mata kita, bahwa percaya begitu saja tidak benar. Bahwa kita bisa menemukan banyak hal jika kita tidak menerima begitu saja indoktrinasi yang diberikan oleh otoritas. Bahwa dengan bersikap skeptik, kita dapat mengarah kepada kebenaran yang sesungguhnya.
Berapa banyak informasi yang anda miliki tentang cara bekerja alam semesta? Tentang luas alam semesta? Tentang sejarah agama? Tentang sejarah peradaban manusia? Adakah informasi tersebut mudah kita dapatkan?
Khususnya di Indonesia, informasi tersebut hampir tidak bisa didapatkan secara memuaskan. Mengapa? Karena informasi yang ada hanya dari satu sisi. Dan jika anda hanya mengetahui informasi dari satu sisi, bagaimana anda dapat menghadapi kritik dengan baik?
Catatan:
Menurut data dari industri perbukuan, penjualan buku agama mencapai 60% dari total penjualan buku di Indonesia. Dari sini saja sudah terlihat, penyebaran informasi apa yang paling banyak terdapat di masyarakat.

Monday, August 13, 2007

Critical Thinking, Books and Increased Intolerance

Ramainya sebuah jaringan toko buku besar di setiap mal yang saya kunjungi di Jakarta – dan kota-kota lain – seolah memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia telah gemar membaca dan mencari ilmu, sehingga menimbulkan harapan bahwa masyarakat semakin cerdas dan berwawasan luas. Namun mengapa kita merasakan adanya penurunan sikap toleransi dan persatuan, serta peningkatan konservatisme dalam beragama?

Saya teringat belasan tahun yang lalu ketika mengikut penataran P4 sebagai persyaratan memasuki perguruan tinggi. Saat pembahasan mengenai gotong royong, diberikan contoh pembangunan candi Borobudur. Salah seorang peserta dengan kritisnya meragukan pernyataan tersebut, dengan menanyakan bukti-buktinya dan menyebutkan bahwa berdasarkan sejarah selama ini di beberapa tempat lain di dunia, besar kemungkinan bahwa pembangunan candi tersebut tidak dilakukan dengan cara gotong royong yang penuh damai, namun dengan cara penindasan atau bahkan perbudakan, dan seterusnya. Ini hanyalah salah satu contoh.
Saya ingat, bahwa saat itu tidak seorangpun diantara kami memiliki semangat meragukan sesuatu dan meminta bukti sekuat teman saya tersebut. Kalau saya pikirkan kembali, hal itu tidaklah mengherankan. Karena dia bukan lulusan sekolah menengah di Indonesia. Ia telah biasa berpikir kritis.

Wartawan Belanda yang mewawancarai Pramudya Ananta Toer dalam buku Aku Terbakar Amarah Sendirian memiliki pertanyaan menarik yang tidak mungkin akan ditanyakan oleh wartawan Indonesia, antara lain,”Mengapa susah sekali mencari buku yang bagus disini?” “Mengapa generasi muda tidak pernah berpikir kritis, bahkan mendukung status quo, dan sangat taat beragama?” Pertanyaan seperti itu tidak pernah terpikirkan bagi orang Indonesia, karena berpikir kritis tidak begitu diharapkan, sebab dapat menimbulkan dosa atau menyinggung perasaan orang lain, dan semakin taat beragama semakin baik, bahkan sangat diharapkan.

Tidak dapat dipungkiri, meskipun secara fisik kita tampak telah modern, namun dari sisi budaya keadaannya terbalik: masyarakat semakin konservatif, pengendalian terhadap pikiran dan penampilan yang bertentangan agama semakin ketat.
Buku yang dijual di toko-toko buku yang luas di mal-mal 60% merupakan buku agama, disusul buku anak-anak, buku pelajaran, dan buku self help serta buku panduan. Sisanya barulah buku umum yang masih sangat terbatas dan relatif rendah mutunya.
Rakyat Indonesia yang kurang memiliki kemampuan berbahasa Inggris atau tidak mampu/ tidak bersedia mengakses internet dan hanya bergantung pada buku-buku berbahasa Indonesia yang dijual di toko-toko akan cukup sempit wawasannya. Mengapa? Karena 99% buku-buku terpenting yang sepatutnya dibaca untuk mendapatkan pengetahuan dasar sebagai seorang yang cukup berpendidikan dan cukup membaca tidak ada dalam bahasa Indonesia. Pemerintah tidak pernah berupaya menerjemahkan buku-buku klasik yang dapat memperluas wawasan, menambah pengetahuan dan menghaluskan budi pekerti warganya, dan penerbit umum tidak menerbitkan buku-buku terbaru tentang penemuan-penemuan penting terakhir dalam sains yang patut diketahui orang banyak, apalagi buku yang mendorong rasa ingin tahu, pemikiran rasional, dan pemikiran kritis. Setelah 62 tahun merdeka, benarkah kita berniat mencerdaskan bangsa?

Mengapa buku-buku bagus perlu? Mengapa daya kritis, rasa ingin tahu yang tinggi perlu? Karena meskipun secara politik negeri ini telah menganut sistem demokrasi, namun secara pendidikan, pemikiran, masih bersistem indoktrinasi. Indoktrinasi ialah suatu sistem pendidikan yang mengharapkan peserta didik untuk menuruti apa yang diajarkan, untuk lebih banyak patuh, mengendalikan diri untuk tidak menanyakan atau meragukan hal yang menurut masyarakat dianggap telah mapan atau tidak patut untuk disangsikan atau telah diterima sebagai kebenaran. Salah satu cara menciptakan hal ini ialah dengan menyediakan informasi (misalnya buku-buku) yang mendukung nilai-nilai tertentu saja. Dengan demikian informasi yang tersedia di masyarakat (toko buku misalnya) dapat dikatakan bias. Apabila masyarakat tidak memiliki informasi lain yang berbeda sebagai pembanding, maka informasi yang tersedia akan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Kritik terhadap satu-satunya kebenaran yang diketahui akan ditanggapi dengan emosional, kemarahan, dan bukan dengan meninjau secara dingin dan rasional dari berbagai sisi. Ketiadaan pengetahuan dasar yang memadai mengenai evolusi alam, budaya dan sejarah, membuat sebagian besar orang tidak dapat membuat penilaian secara obyektif dan bersifat apriori terhadap kritik dan cenderung menerima saja nilai-nilai yang dianut mayoritas tanpa mengevaluasinya kembali secara kritis dan teliti berdasarkan fakta dan ilmu pengetahuan terakhir.

Buku-buku atau informasi yang seimbang perlu agar masyarakat dapat bersikap kritis, rasional, skeptikal dan obyektif, sehingga sikap yang diambil telah berdasarkan infromasi yang memadai, tidak bias. Kebiasaan berpikir kritis juga akan mengarah kepada kejujuran pikiran, kebebasan dan penghargaan terhadap pendapat atau sikap hidup yang berbeda, sehingga akan timbul sikap toleransi.


Wednesday, September 20, 2006

REVISI KUHP : Perlindungan Berlebihan Atas Agama

Berita Kompas beberapa waktu yang lalu menyebutkan revisi KUHP meningkatkan jumlah delik agama dari 1 Pasal menjadi 8 Pasal:
Pasal 341

Penghinaan terhadap agama
Pasal 342
Menghina keagungan Tuhan
Pasal 343
Perbuatan menodai agama
Pasal 344
Perbuatan menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempel tulisan atau gambar yang bermuatan penghinaan

atau penodaan terhadap agama
Pasal 354
Penghasutan untuk meniadakan keyakinan terhadap agama
Pasal 346
Mengganggu, merintangi, atau membubarkan dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap

jamaah yang sedang menjalankan ibadah
Pasal 347
Mengejek orang yang sedang menjalankan ibadah atau mengejek petugas agama.
Pasal 348
Menodai atau merusak atau membakar bangunan tempat ibadah atau benda yang dipakai untuk beribadah.

Kaum beragama sangat takut akan kritik terhadap agama. Jika memang yakin akan kebenaran agamanya, mengapa harus demikian takut? Hanya mereka yang tidak yakin akan kebenaran keyakinannya yang takut dikritik.


Seragam Rok Panjang Anak Sekolah



Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang terhadang macet sehingga mobil harus berhenti agak lama di dekat sebuah sekolah, tiba-tiba saya merasa aneh : mengapa semua anak sekolah mengenakan rok panjang semata kaki padahal mereka tidak mengenakan jilbab? Mengapa di sekolah biasa (bukan madrasah) anak-anak perempuan tidak mengenakan rok sepanjang lutut, seperti zaman saya dulu?
Mungkin saya agak terlambat memperhatikan lingkungan sekitar. Supir saya menerangkan, bahwa di Tangerang – bagian provinsi Banten – semua anak sekolah harus mengenakan rok panjang, bahkan di sekolah anaknya, hari Sabtu bukan lagi waktunya berseragam pramuka, tapi waktunya mengenakan jilbab.
Apa artinya semua ini? Mengapa anak-anak dan remaja perempuan itu harus mengenakan rok panjang; apa salah kaki mereka sehingga harus ditutup dengan pakaian yang tidak praktis itu?
Tentulah alasannya bukan karena kaki mereka rusak sehingga tidak patut dilihat. Sebaliknya, pasti alasannya adalah untuk “kesopanan”, yang arahnya untuk membentuk “moralitas”, lebih jauh lagi, mungkin untuk memenuhi norma agama.
Padalah lihatlah. Mereka harus naik kendaraan umum, berjalan melewati tanah yang penuh debu, di tengah udara tropis yang panas. Seragam rok panjang tidak praktis untuk naik kendaraan umum, untuk berjalan di atas tanah atau aspal berdebu, karena bagian bawah rok bisa menyangkut di kendaraan dan membawa kotoran dan debu dari jalan yang dilalui.
Keadaan di atas menunjukkan bahwa negara ini semakin mundur – pemerintah pusat tidak mempunyai kekuasaan menghadapi peraturan yang dibuat pemerintah daerah, dan perempuan semakin dianggap sebagai obyek dan pembuat dosa, sehingga bahkan anak-anak sekolah pun tidak boleh memakai rok sepanjang lutut!

Tuesday, September 19, 2006

ESQ Training

Suatu hari, saya mendapat laporan bahwa sebuah lembaga keuangan mikro (LKM) menggunakan dana subsidi pendidikan (yang seharusnya untuk meningkatkan kompetensi teknis) untuk training esq. Saya sedikit terkejut... demikian trendnya training ini (menurut iklannya telah ada sekitar 200 ribu alumni), sampai sebuah lkm juga merasa harus mengikutinya.
Tapi pertanyaan kemudian muncul: seberapa penting dan perlukah training ini, sampai semua perusahaan merasa harus mengirimkan pegawainya? Saya justru merasa prihatin, karena training yang berlabel “Leadership” di belakang kata-kata emotional dan spiritual ini sesungguhnya mengajarkan indoktrinasi agama dan cenderung meningkatkan konservatifme. Tak jauh beda dengan seminar Amway yang bernama Leadership Seminar, namun berisi brainwashing untuk menjalankan skema piramid berkedok mlm.
Berikut beberapa hal yang dapat menjadi catatan dari training esq profesional yang pernah saya ikuti :

A. Metode Training
1. Indoktrinasi
Training bersifat satu arah dan berdasarkan satu agama yang otoritas/ kebenarannya dianggap hampir mutlak. Selain itu doktrin training ini yaitu “hapuskan semua, termasuk literatur (yang pernah dibaca), agar dapat menerima pencerahan dan manfaat dari training” mengarah pada brainwashing (inducing a person to modify his/her beliefs, attitude or behavior by conditioning things in various forms of pressure).

2. Hipnosis
Sekitar setengah dari materi training disampaikan dalam suasana gelap; peserta diminta duduk di lantai, menutup mata, mengingat masa lalu atau dosa-dosa, trainer menyampaikan kisah-kisah agama atau kisah cengeng lainnya untuk menarik emosi peserta agar merasa bersalah, berdosa besar dan melupakan rasionya, kemudian trainer membentak-bentak peserta agar mengaku dosa, mengakui kebesaran Allah dan meneriakkan namanya keras-keras, bersujud beberapa menit, diiringi tangisan histeris perempuan trainer. Setelah selesai, ruangan terang kembali, peserta diajak bernyanyi, mengikuti permainan, bergembira, diberi hadiah-hadiah kecil, demikian berganti-ganti. Metode ini dapat disebut sebagai hipnosis.

B. Materi Training
1. Informasi yang bias
Untuk menumbuhkan spiritualitas berdasarkan pengetahuan akan betapa tidak berartinya manusia dalam alam semesta, training menggunakan penemuan dan gambar-gambar dari sains mutakhir (kosmologi). Namun disini sains diinterpretasikan sesuai doktrin agama untuk melegitimasi kebenaran tulisan dalam kitab suci, sehingga memberi kesan bahwa sains tidak bertentangan dengan agama bahkan telah tertulis di dalamnya. Informasi ini sangat bias, karena ayat-ayat yang tidak sesuai dengan temuan sains mutakhir (misalnya biologi) tidak disebutkan dan sains yang tidak sesuai dengan doktrin agama tidak diakui. Menyatakan gerakan benda langit dan ritual mengelilingi kabah sebagai hal yang sama yaitu bukti bahwa semua diciptakan Tuhan untuk bertasbih kepadanya adalah merupakan interpretasi agama dari pembuat training, namun bukan pengetahuan obyektif.

2. Agama sebagai satu-satunya sumber moralitas
Training menganggap moralitas hanya bisa diperoleh dengan adanya rasa takut kepada Allah yaitu hukuman Tuhan/ neraka dan harapan untuk memperoleh balasan/surga. Segala hal yang baik tidak peduli dari manapun datangnya dianggap merupakan perwujudan sifat Allah, dan segala perbuatan harus berdasarkan untuk Allah. Dengan demikian training telah menganggap manusia tidak dapat memiliki moralitas, integritas dan kebaikan tanpa bantuan Allah (agama). Hal ini tidak benar. Nilai-nilai dan moralitas bergerak sejalan dengan perkembangan peradaban. Moral yang berdasarkan pada ketakutan akan hukuman dan keinginan mencari balasan adalah penuh pamrih dan lebih rendah dari moralitas yang berdasarkan pengertian, martabat dan harga diri, yang tidak mengharapkan balasan apapun selain keinginan untuk berbuat baik dan bekerja keras. Agama memang telah membantu banyak orang dalam memberikan harapan, penghiburan dan petunjuk moral, akan tetapi agama juga telah banyak menimbulkan penindasan, pembunuhan dan peperangan, selain menunda kemajuan ilmu pengetahuan selama berabad-abad. Moralitas/nilai-nilai yang kita hargai saat ini seperti tiadanya perbudakan, diakuinya kebebasan berpendapat, berkeyakinan, kesetaraan gender, toleransi dll sebagian besar adalah hasil perjuangan para ilmuwan (yang memungkinkan dihapuskannya perbudakan) dan para pemikir bebas (yang memungkinkan agama dipisahkan dari negara sehingga menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan dan dunia yang lebih baik bagi lebih banyak orang), yang tidak terkungkung oleh dogma agama bahkan menolaknya.

3. Penggunaan ritual agama secara berlebihan
Dalam training, peserta diminta :
a. Mencontoh Nabi Ibrahim dalam mencintai Allah (padahal mungkin kisah tersebut pelajaran kepada bangsa Arab zaman dulu agar menghentikan kebiasaan memberi kurban persembahan anak laki-laki pertama),
b. Meniru gerakan ibadah haji (kaum penyembah berhala telah melakukan ibadah sejenis jauh sebelum muncul agama islam),
c. Ditunjukkan kehebatan bangsa Arab meluaskan wilayah dan memajukan ilmu pengetahuan (untuk apa membanggakan bangsa Arab zaman dulu? Apabila maksudnya agar umat Islam memiliki kebanggaan dan berusaha meraih kemajuan ilmu pengetahuan kembali, tentu caranya bukan dengan menanamkan kepercayaan buta kepada agama, melainkan mengajarkan berpikir kritis dan merdeka. Apabila mengajak untuk meluaskan ajaran Islam, maka berdasarkan contoh yang disajikan berarti dengan peperangan).

4. Penggunaan kesaksian dan keajaiban
Dalam satu sesi trainer menceritakan kisah seorang alumni training yang mendapatkan keajaiban (pertolongan Tuhan) karena menerapkan prinsip training, yaitu mengingat dan meminta pertolongan Allah pada saat genting. Selain itu dihadirkan pula kesaksian dua orang alumni training yang masih remaja. Ini adalah metode pengajaran agama biasa, yang mendasarkan kemampuannya mempertahankan dan menarik pengikut dengan kisah mujizat dan kesaksian. Dalam zaman modern ini, masyarakat tidak diajak berpikir rasional, tetapi masih dibujuk dengan keajaiban , tak ada bedanya dengan upaya nabi-nabi menarik pengikut pada ribuan tahun lalu.

5. Manajemen dan leadership
Materi dan suasana agama Islam konservatif sangat kental sehingga saya tidak melihat atau mendapat sesuatu yang baru tentang manajemen dan leadership, kecuali kalau yang dimaksud adalah bahwa untuk menjadi karyawan atau pemimpin yang baik harus selalu ingat dan takut pada Tuhan dan mengikuti 99 sifatNya.

Training ini sejalan dengan meningkatnya konservatisme yang dibiarkan berkembang oleh pemerintah dan semua pihak yang berwenang :
1. Tidak ada tindakan hukum atau komentar yang menyalahkan/menegur pelaku :
a. Penyerangan terhadap organisasi Islam liberal.
b. Penutupan jalan terhadap sekolah Kristen
c. Pembakaran rumah pengikut Ahmadiyah
d. Pelarangan melaksanakan kebaktian di rumah sendiri
e. Penutupan klenteng
f. Penyerangan terhadap fasilitas umum yang dianggap “maksiat”
g. Penyerangan terhadap rumah demonstran anti RUU APP
2. Dipaksakannya pembahasan RUU APP meskipun menimbulkan bibit perpecahan bangsa.
3. Dibiarkannya beberapa daerah (Bulukumba- Sulsel, Padang, Banten dll) menerapkan syariat Islam sesuai versi masing-masing.
4. Produksi dan penayangan sinetron agama yang berlebihan dan semakin bersifat takhyul.
5. Perlombaan pengkhotbah agama kanak-kanak di televisi.

Training ESQ, meskipun terdapat peserta dari agama lain, namun sangat bernuansa Islam konservatif, yang di luar training tercermin dari materi yang terdapat dalam majalah Nebula, pakaian perempuan panitia training, dan vcd yang dijual di luar ruangan training (Harun Yahya).
Selain itu, mengingat training ini juga memiliki kelas untuk anak-anak dan remaja, memberikan training gratis untuk guru, maka.. bayangkanlah akibatnya pada bangsa ini... betapa kerasnya agama membelenggu cara berpikir : dari pelajaran agama yang wajib diikuti rakyat seumur hidup (sejak SD s.d. univ.), tayangan televisi, ditambah dengan indoktrinasi agama model ESQ, sementara penyeimbangnya, yaitu organisasi, media massa, tayangan tv dan buku yang mengajak bersikap dan berpikir kritis, skeptik, rasional dan bebas tidak mudah diperoleh rakyat banyak, karena semua pihak terancam oleh rasa takut terhadap Islam konservatif, yang sewaktu-waktu siap menyerang dan memberi fatwa hukuman mati kepada siapapun yang berani berpikiran bebas dan kritis.
Hanya beberapa gelintir yang berani berpikir bebas disini, seperti Pramoedya, Gusdur, dan jika di Eropa atau AS para ilmuwan berperan besar menebarkan kebebasan berpikir dan rasionalitas kepada rakyat banyak, dimana ya para ilmuwan Indonesia?







Tuesday, April 18, 2006

Save Indonesia From Religion Conservatism

Many people still think that Indonesia is a good example of moderate Muslim society. That is why the majority, the moderat Muslims here, do not think it serious when more radical Islamic organizations publish their newspaper, magazines, get publicities in television, more seats in parliament, and lurk into many universities silently to spread their hard religion.
Not until the draft of Pornography Law is open to the public. Then everybody realizes, how serious it is. We can not ignore them anymore, because now they want us to live like them. And if we keep silent, because of "the respect for religion", one day they will force us to follow their way of life, their way of thinking, and persecuting and condemning everyone who lives and thinks differently. It has happened in Aceh with the implementation of sharia, and its seeds begin to spread in Tangerang, Banten,Padang, South Sulawesi, and several other cities.They also have attacked more liberal Islam organization, closed schools owned by other religion, churches or temple, and many other attacks.
It is not just that. It has affected our life also, with increasing intensity.
Could you remember the situation here, 20 (twenty) years ago? It was difficult to find women wearing jilbab at the time, girls were not permitted wearing it in schools, the formal office wear for women employees were dress, couples from different religion could get married, and sending Muslim children to Christian or Catholic schools was common. No parents were afraid their children would convert to Christian religion although there were no Islamic teaching or Islamic teacher teaching Islamic religion.
But things changed. Slowly. Because for twenty years, we did not care. We let them did their work to achieve their dream : the more conservative Islam, and then, if time and situation possible, the implementation of sharia. Democracy helps them : nobody can prevent them now. And the masses are ready, because during the twenty years they were never been taught to be rational, to have good character, responsibility and broad vision.
Does this increasing religion conservatism and radicalism affect your life?
It has affected me. Several years ago, some of my cousins decided not to come to my wedding, because I married to a man from other religion. They came at last, because one of them insisted to come. But I could not forget their look, their eyes...
A few weeks ago, I was a little shocked to see a big banner in a street near my house,"Time for the leadership of Khilafah. It is time for the implementation of sharia," and in another area," ...(name of a famous ulama) agrees to implement th sharia."
Attached to the series of street lamps to my housing complex, the local ulama organization put many green boards, each with one of the 99 names of God (according to Quran) and its Arabic letters. How do you feel seeing all of that in a public street if you are not Muslim, even if you are a moderate Muslim? Doesn't it make you more anxious every day?
Almost every week I can not recognize my friend anymore if we do not meet every day, because everytime I meet them I always find that they wear jilbab now. I even have difficulties to get friends if I insist to have someone without it. Because their number is decreasing now. My mother faces the same thing. More of her friends wearing it this time, even asked her to wear it. I also heard that some mothers or husbands who think jilbab is not necessary facing difficulties because their little daughters or wives want to wear it, (may be because of the environment pressure), and must find a way to prevent it. Some years ahead we will become a minority...
Even now I feel like minority. Last year when my office had an outbound and we must wear uniform T Shirt, they made long sleeves shirt for women, and the short ones for men. It is not them who adjusted their clothes by wearing another shirt besides the uniform, but it is us (women without jilbab) who must adjust to them, by wearing long sleeves shirt!
It is not just the way you dress. It is also the way of thinking. Now people believe that morality, integrity and productivity could come only from practicing and believing religion more. So in recent years my office sends every new employees or the new promoted for three days religious teaching. Not just my office. Many companies and institutions send about a hundred thousands of their employees to the famous Emotional and Spiritual training in the country, which is another name of Islamic religion indoctrination.
The training emphasizes on blind faith and obedience to religion, the fear of hell, the morality based on the fear of the punishment from God and the seeking of rewards (pahala), the false information that scripture is supported by latest findings in science, and the pride to be a part of the Islamic society, which refers to Arab as the conqueror of the world in the past. What could we expect from such a training? They report that people repent their sins, gave back the money they stole from thier companies, more productive, get the meaning and purpose of life, and God saved their life in plane accident. I do not know if it's true. But I have read how it could change someone to be more religious and at the same time lose rationality. A young girl wrote, that after the training she decided to wear jilbab and to be more religious, hoping that by doing that Prophet Mohammad would welcome her in the gate of paradise.

Religion becomes the quick solution for all problem. More people think that if our society practicing and believing religion more deeply, our problem will be solved, because there would be no more corruption, no more moral degradation from the West, more productive people with high morality.They do not realize that every children in this country have been taught religion all their life, from elementary school to university, everybody must have religion, and the number of mosques and pilgrims to Mecca may be the biggest in the world. Facts have proved that practicing and having religion has no correlation with moral. Because morality from religion is not based on reason or responsibility. It does not teach its subject to have dignity, to do good things and work hard without expecting rewards (pahala). On the contrary, it teaches its followers to calculate their conduct based on profit; the sin can be paid if you do some rituals which have value more than the sin you did. So people are busy calculating and collecting their rewards, the ticket to heaven. For that they go to Mecca more than once, if necessary seven times, praying for hours, and building luxurious mosques. All are their saving for afterlife, for forgiveness of their sins.
I know that from experience.
Ome day I had lunch at Japanese restaurant with my friends who all wearing jilbab and very religious. After finished lunch they realized, that they had eaten nirin, which contain alcohol, although very little. They felt sorry, but then said,"That's ok. We will shalat tobat (repentance prayer) tonight for this sin."
They are educated working women. Yet it never comes to their mind to think or ask: Why does their religion ban alcohol? Why do they have to follow it? Why do they have to wear jilbab? Is that enough reason to obey it?
They do not use their reason anymore, they do not complain or ask anything. Because their religion tell this and that, it means true, it means they are saved from hell. That is why they will obey everything told by religion.
A rational person will not drink alcohol because she knows it will make her drunk or harm her health, but a little alcohol in the food or cakes is nothing, because it can not make her drunk. And if ulema, religious books, her husband or environment asks her to wear jilbab, she would ask first : why? What is wrong with her hair, her body, is it so shameful that must be covered? Why do they (men, religion) think that her hair and body is so shameful? Is wearing jilbab more healthy and comfortable in the climate of this country?
She will ask everything told to her before she obey it. She will not submit her reason just because of religion, she is not afraid to ask to get the truth.
Our problem is, too many people are too afraid to convince the importance of rational and free thought, to publish and distribute books, magazines and articles that could improve the critical thinking or freedom of thought, because it will offend religion. We have no scientist who voluntarily talking, writing or explaining this to the public.
Do you think Richard Dawkins writing popular books on evolution to improve your (religious) faith? Of course not. But the translation of his book in Indonesian language was advertised as"the book that will improve your faith."
If this situation does not change, in the long run our country will be dominated and ruled by the conservative and radical Islam. Remember the differences they have made in the past twenty years, and the difference they could make in the next ten years.
Just think the consequence on your life, especially if you are a woman.

Sunday, April 16, 2006

Anak


Apakah artinya anak bagi anda?
Seorang teman ketika berobat untuk memiliki anak menangis di depan dokternya karena setelah segala usaha, keinginan untuk memiliki anak sendiri tidak berhasil.
Seorang sahabat dekat saya di kantor selama bertahun-tahun tidak bersedia lagi membalas telpon dan makan siang bersama, bahkan menjauhkan diri sejak tahu saya akan memiliki anak, dan tidak bersedia menjenguk seorang teman pun yang baru melahirkan, karena ia tidak dapat memiliki anak meskipun telah berusaha dengan segala cara.
Persahabatan yang saya kira cukup berarti, ternyata tidak cukup kuat untuk mengatasi rasa marah dan iri karena tidak dianugerahi anak. Demikianlah betapa besarnya arti seorang anak. Benarkah? Ataukah kesedihan tidak memiliki anak juga didukung oleh lingkungan kita yang turut menambah beban mereka dengan terus menerus menanyakan hal tersebut (a.l menjadi topik favorit tayangan infotainment) dan menganggapnya sebagai sebuah kekurangan yang sangat, betapapun berhasilnya seseorang di bidang lainnya? Tidak dapat dipungkiri, masyarakat kita masih seperti itu, dan tidak semua orang sanggup menghadapi lingkungan yang menekan seperti itu setiap hari.
Tanyakanlah setiap perempuan yang sukses, 99% akan menjawab bahwa saat paling membahagiakan dalam hidup mereka adalah saat ketika melahirkan dan memiliki anak, apalagi yang pertama. Bukan ketika mereka lulus pendidikan tertinggi, mendapatkan promosi yang susah payah diperjuangkan, atau mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Padahal setiap saat perempuan paling miskin dan tidak berpendidikan sekalipun dapat melahirkan anak tanpa henti, bahkan membunuh, membuang atau melemparkannya begitu saja di jalanan jika tidak dapat memberi makan atau pendidikan. Tapi memiliki anak tetap dianggap sesuatu yang sangat istimewa, yang tanpanya dapat membuat segala keberuntungan dan keberhasilan yang diperoleh menjadi tak berarti. Tidak memiliki anak dapat membuat seseorang ditimpa depresi dan marah kepada dunia dan setiap orang yang memiliki anak. Haruskah demikian?
Steven Pinker, seorang psikolog evolusioner terkemuka tidak bersedia memiliki anak, karena menganggap manusia hanya kendaraan bagi gen yang egois untuk membiakkan diri. Menuruti kehendak gen yang selalu mencari dan mengoptimalkan tubuh manusia yang ditempatinya untuk tujuan utamanya berkembang biak sebanyak-banyaknya sama saja dengan tunduk dan menjadi budaknya. Namun pendapat ini hanya bisa muncul dari seorang ilmuwan yang telah sungguh-sungguh menghayati teori evolusi.
Biologist Richard Dawkins, yang memahami bahwa bagi sebagian besar orang memiliki anak merupakan salah satu cara untuk mendapatkan imortalitas yang sangat didambakan, menyatakan bahwa anak bukanlah hal terbaik untuk mendapatkan imortalitas. Setelah tiga generasi, mereka tidak akan mengingat anda lagi. Namun apabila anda dapat menyumbangkan sesuatu bagi dunia, seperti memperkaya seni, kebudayaan, sains atau apapun yang dapat membuat anda tetap dikenang setelah tiada, itu lebih berharga daripada memiliki keturunan. Ya, apalagi jika ternyata anak yang sangat anda dambakan tersebut tidak sesuai dengan harapan.
Saya melihat banyak orang yang di masa tua dikecewakan dan disusahkan oleh anak-anak yang begitu mereka harapkan di waktu kecilnya, sehingga mereka memberi nasihat kepada mereka yang sedih karena tidak memiliki anak,"Memiliki anak adalah seperti sebuah lotere, kita tidak tahu persis bagaimana hasil akhirnya, meskipun kita telah berusaha sebaik mungkin sewaktu mereka kecil. Jika tidak menang lotere, tidak memiliki anak adalah lebih baik".
We can't get everything we want, that's life! Some people have everything very easily, others get so little 'though have tried very hard all their life. We can't say anything about fairness here. The nature of the world does not understand or know that term.