Monday, May 18, 2015

Anak-anak Indonesia




Sebagai generasi yang pernah mengalami Indonesia yang relatif sekuler, semakin hari saya semakin sedih melihat kondisi  Indonesia yang kian religius dan cenderung fanatik. 
Di tempat kerja, satu persatu kolega dan staf baru mengenakan hijab dan pergi umroh berulang kali,  les mengaji di kala istirahat makan siang, sedangkan  para pria sembahyang dan mendengarkan khotbah yang lumayan radikal setiap hari di masjid kantor, memelihara jenggot…sehingga kantor tak ubahnya sebuah pesantren.  Tidak berbeda dengan teman-teman lama, penampilan dan kata-kata yang mereka tulis di media sosial semakin hari semakin religius dan fanatik. 
Di jalan-jalan, gadis-gadis muda bahkan balita telah menutup rambut dan seluruh tubuhnya  dengan kerudung lebar yang melambai-lambai serta baju longgar tak berbentuk.
Hal yang lebih mengenaskan ialah melihat siswa sekolah beramai-ramai sholat istighasah agar bisa lulus ujian nasional.  Begitu sulit dan seramkah melalui ujian nasional, sehingga tidak seorangpun memiliki kepercayaan diri untuk bisa lulus? Memangnya kalau tidak belajar doa bisa membuat seseorang lulus?

Saya teringat bahwa seumur hidup saya tidak pernah berdoa untuk  bisa lulus ujian atau tes apapun, karena saya percaya, kalau tidak belajar atau tidak menguasai pelajaran, sudah pasti tidak akan bisa lulus ujian sekalipun berdoa semalaman. Tetapi kalau telah belajar dan menguasai pelajaran tersebut, tanpa doa pun pasti akan lulus. Mengapa kini para pelajar tersebut demikian tidak percaya diri dan begitu menggantungkan  hasil ujian – yang sebenarnya  berasal dari upaya diri sendiri – pada doa?  Apa yang salah dengan pendidikan anak-anak Indonesia sekarang sehingga mereka tidak lagi percaya pada kemampuan berpikir mereka sendiri, sehingga mau ujian saja harus berdoa ramai-ramai?

Keadaan anak-anak Indonesia menggambarkan masyarakatnya, yang telah tergiring ke arah konservatisme beragama. Banyak orang tua, termasuk pemerintah, lebih mengutamakan pendidikan agama dari pada kemampuan intelektual. Mereka mengutamakan sekolah yang berbasis agama, yang menekankan pentingnya berhijab, sembahyang lima waktu, menghafal kitab suci tanpa membaca isinya dengan kritis, mencampuradukkan sains dengan kitab suci, antara lain bahwa kitab suci telah mengandung semua pengetahuan modern, atau bahwa semua penemuan dari ilmu pengetahuan modern telah dimuat dalam kitab  tersebut lebih dari seribu tahun yang lalu, dan menyamakan moralitas dengan ketaatan mutlak pada ajaran agama.

Kecenderungan untuk mengutamakan agama antara lain tercermin dari hasil test sedunia, yaitu pelajar Indonesia menempati ranking 10 terbawah dalam matematika dan sains. Sementara itu ranking teratas diduduki oleh negara-negara Asia, yang kita ketahui sebagai negara sekuler. 

Sekolah anak saya tidak  mengizinkan pelajaran agama untuk anak-anak di bawah sekolah dasar, karena anak-anak belum waktunya mengenal hal-hal yang absurd. Pelajaran agama adalah sesuatu yang berlawanan dengan logika. Itu sebabnya orang dewasa merasa perlu untuk mengajarkannya sedini mungkin dengan keras, karena seseorang yang telah dapat berpikir dengan rasional atau berpikiran bebas akan sulit menerimanya. Itu pula sebabnya semakin cerdas dan luas pengetahuan seseorang maka semakin tinggi daya kritisnya, yang akan mendorongnya mempertanyakan segala ajaran agama yang tidak sesuai dengan fakta empiris maupun nilai-nilai moral modern, sehingga ia akan menjadi penganut agama yang liberal, atau bahkan melepaskan agama formal, namun lebih bermoral.

Kondisi lingkungan Indonesia yang bersifat komunal membuat setiap orang takut berbeda dan selalu ingin serupa dengan orang lain. Mereka takut dianggap tidak beriman, karena beriman sama dengan bermoral. Jika semua orang di sekeliling mengenakan hijab, maka ia merasa tidak percaya diri jika tidak mengenakannya juga.  Mereka suka mendengarkan khotbah beramai-ramai daripada mencari informasi sendiri dengan membaca buku yang memberi informasi berbeda dari yang telah dikenalnya. Mereka suka berlibur di tempat-tempat ramai dan takut ke tempat-tempat baru yang kurang dikenal atau terpencil. Mereka mengeluh dan mengancam akan berhenti jika ditugaskan di kota-kota kecil.

Sangat sedikit teman saya yang berani berbeda. Nyaris tidak ada yang membaca buku-buku yang saya baca, sedikit yang berani mempertahankan gaya berpakaian tanpa hijab, lebih sedikit lagi yang berani pergi lebih ke timur dari pulau Bali, dan tidak ada yang memiliki kebebasan berpikir. Orang Indonesia sangat takut berbeda dari lingkungannya, baik dari sisi penampilan maupun pemikiran. Dan hal itu kian dipicu dengan adanya konservatisme agama, yang tidak mentolerir adanya pertanyaan, keraguan, atau perdebatan atas doktrin-doktrinnya yang dianggap telah sempurna, berlaku sepanjang zaman,  dan berasal dari Tuhan, sehingga sama sekali tidak dapat dikritik atau ditafsirkan.

Apa yang akan terjadi pada bangsa yang terlalu religius, yang percaya bahwa semua bisa diatasi hanya dengan doa, yang tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan, efisiensi, kreativitas hanya bisa muncul dari bangsa yang memberikan kebebasan berpikir, menghargai  individualisme, dan memisahkan sains dari agama?  Lihatlah negara-negara Timur Tengah dan sejenisnya! 




Thursday, February 23, 2012

Valentine 2012

Human kind
Cannot bear very much reality
                         T.S. Eliot


Beberapa kejadian terakhir di bulan Februari mengingatkan saya pada novel dystopia Margaret Atwood The Handmaid’s Tale. Pertama, berita penghancuran patung Budha bersejarah di museum Maladewa, yang mengingatkan pada perilaku Taliban di Afghanistan beberapa tahun silam. Kedua, ajakan (dari dan ke email kantor!) mengikuti kampanye berpakaian tertentu tepat di hari Valentine (namun bukan pakaian bebas berwarna pink), untuk menyebarkan pemakaian jenis pakaian tersebut, sebagai bentuk perlawanan yang didasari ideologi ekstrim kanan. (Mengapa dua puluh tahun lalu tidak ada kampanye yang menganggap peringatan hari Valentine begitu serius, dan semua hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu dan kekanakan? Mengapa sekarang pakaian demikian penting, lebih penting dari memberantas masalah peledakan penduduk, kemiskinan, kebodohan?) Ketiga, meningkatnya gerakan konservatif di Eropa untuk mengimbangi radikalisme dari Timur Tengah.

Dunia seperti kembali ke abad pertengahan. Seolah kampanye sepanjang waktu di semua tempat ini - sekolah, televisi, media cetak, tempat ibadah, jalan raya – masih tidak cukup juga, sehingga harus masuk ke dalam ruang kerja di kantor. Demikian arogannya memaksakan kebenaran ideologi sendiri pada orang lain…

Rasionalisme, science, seperti demikian jauh dan tak terjangkau sebagian besar orang di bumi… Teknologi, yang diciptakan dari peradaban yang berdasarkan pencerahan, telah digunakan untuk menyebarkan ideologi yang berlawanan dengannya.

Dalam novel Atwood, negara dikendalikan oleh pemerintahan diktator teokratis, yang semula menebarkan pengaruhnya secara perlahan tanpa disadari oleh kaum liberal dan moderat, sampai ketika suatu saat muncul keadaan kritis, mereka mengambilalih kekuasaan dan menindas lainnya.

Para ahli biologi evolusioner menyatakan, perubahan ke zaman modern terlalu cepat, sehingga pikiran manusia - yang selama ratusan ribu tahun hidup hanya sebagai kaum pemburu pengumpul - tidak dapat mengikuti perubahan tersebut. Akibatnya, kita hidup dalam dunia yang penuh kekerasan dan tidak dapat menghadapi kenyataan sebagaimana adanya.

Kosmolog Carl Sagan pernah berusaha menunjukkan kenyataan itu dalam A Pale Blue Dot. Bumi hanyalah satu debu tak terlihat di antara seratus miliar bintang di tepi redup sebuah galaksi diantara empat ratus miliar galaksi lainnya…di dalam kegelapan dan keganasan alam semesta yang sunyi…tak ada tempat lain, tak ada yang dapat menolong manusia selain dirinya sendiri… namun banyak orang demikian angkuh dengan kebenaran yang diyakininya, hingga memaksakan kehendaknya kepada yang lain dengan segala cara, jika perlu dengan kekerasan.

Evolusi menjelaskan bahwa manusia memiliki ikatan dengan seluruh makhluk hidup di bumi dan tidak diciptakan secara tersendiri dengan tiba-tiba. Kosmologi menjelaskan bahwa alam semesta dapat tercipta dari ketiadaan. Namun betapapun banyaknya fakta yang diajukan, kenyataan itu tak mudah diterima manusia…karena membuatnya merasa tidak berarti, tidak istimewa, dan tidak memiliki tujuan…

Namun benarkah hal itu? Tidak, terutama jika kita selalu berusaha memahami cara bekerja alam semesta. Sebagaimana dinyatakan fisikawan Steven Weinberg, “….The effort to understand the universe is one of the very few things that lifts human life a little above the level of farce, and gives it some of the grace of tragedy.”
  
Kampanye berpakaian tgl 14 Februari 2012



Ilustrasi novel The Handmaid's Tale

Wednesday, March 23, 2011

RASIONALITAS DAN SAINS DI SEKITAR KITA


Beberapa tahun lalu, harian Kompas membuat daftar film-film Indonesia terburuk sepanjang tahun 2006. Salah satu diantaranya mendapat komentar kira-kira begini,”Film yang dibuat oleh orang yang tidak tahu mau berbuat apa dengan kecanggihan teknologi masa kini sementara jiwanya masih diliputi takhayul.” Menggelikan sekaligus menyedihkan. Sebenarnya tidak hanya sutradara atau penulis film tersebut yang tidak tahu harus berbuat apa dengan kemajuan teknologi masa kini. Sebagian besar bangsa ini mungkin demikian. Lihatlah acara saluran-saluran televisi di negeri ini. Televisi, yang bagi rakyat kebanyakan merupakan satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan yang terjangkau karena tidak harus dibeli, hanya berisi takhyul, mimpi, komedi dan gosip. Teknologi tidak dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan, melainkan hanya untuk memberikan hiburan dangkal dan informasi tentang kejahatan serta politik.

Beberapa bulan yang lalu, saya terkesan dengan ketidaktahuan salah seorang rekan kerja dan beberapa peserta akan alam semesta. Sehabis mendengarkan penjelasan di sebuah trainng yang memberikan gambaran akan luasnya alam semesta dan kedudukan bumi di dalamnya, mereka baru sadar, betapa kecil, rapuh dan tidak berartinya bumi di alam semesta. Mengherankan, bahwa sampai setua itu mereka tidak mengetahuinya. Jika mereka yang berpendidikan tinggi saja seperti itu, bagaimana dengan rakyat kebanyakan? Bagaimana mengharapkan mereka untuk mengendalikan kelahiran, menjaga kelestarian lingkungan, jika mereka tidak tahu apa-apa tentang sains yang paling dasar sekalipun? Bagaimana negeri ini tidak akan rusak? Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Carl Sagan, ilmuwan AS, menulis buku dan membuat serial televisi berjudul “Cosmos” agar rakyat Amerika mengenal alam semesta dan sains. Tujuannya hanya satu : menggugah kesadaran masyarakat, bahwa kita tidak hanya bisa menyerahkan diri pada nasib, atau doa-doa, tetapi harus berbuat sesuatu jika ingin tetap survive di bumi ini, dan jalan yang paling dewasa adalah dengan lebih menghargai sains, karena hanya itu satu-satunya yang dapat kita andalkan selama ini. Penonton setia televisi akan hafal, betapa seringnya film-film Hollywood diputar di televisi berkali-berkali untuk judul yang sama dalam jarak berdekatan. Tapi pernahkah mereka menonton bahkan sekedar mendengar film sejenis Cosmos diputar di televisi? Pernahkah mereka menonton salah satu ilmuwan, baik dalam atau luar negeri yang memberikan penjelasan tentang sains dasar, satu kali saja? Mungkin tidak pernah, karena memang tidak ada acara semacam itu, yang ada adalah penjelasan dari para ulama/pendeta atau dokter.

Tidak ada yang salah dengan penjelasan dari agamawan. Namun tanpa keseimbangan, rakyat tidak akan menyadari bahaya yang sebenarnya mereka hadapi. Mereka tidak mengerti, dan tiba-tiba terkena bencana. Padahal jika mereka diberikan informasi terus-menerus secara memadai, mungkin bencana dapat dikurangi atau dihindari. Hari-hari ini para ilmuwan sibuk memperingatkan akan bahaya pemanasan global. Beberapa minggu yang lalu organisasi lingkungan hidup sedunia memperingati hari air, dan Indonesia diusulkan menjadi pemegang rekor sebagai penghancur hutan tercepat di dunia. Tapi berapa persen masyarakat disini yang sungguh-sungguh memikirkan hal ini? Bahkan di Amerika, kaum fundamentalis Kristen (termasuk Presiden Bush) tidak begitu peduli, karena percaya bahwa Tuhan akan selalu menjaga bumi untuk manusia.

Banyak yang tidak percaya bahwa kita harus bersikap rasional, dan masih memegang ajaran lama yang hanya cocok untuk ribuan tahun lalu. Bayangkan jika ajaran untuk beranak pinak sebanyak-banyaknya memenuhi bumi (karena Tuhan akan memberi rezeki kepada masing-masing) masih diterapkan di zaman sekarang dimana bumi telah penuh sesak dan sumberdaya semakin terbatas. Bukankah hal itu justru akan menimbulkan bencana, karena akan semakin banyak hutan dihancurkan untuk tempat tinggal atau pertanian? Jared Diamond dalam bukunya “Collapse” memberi contoh beberapa masyarakat yang hancur karena pesatnya pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan kerusakan lingkungan karena daya dukung alam tidak lagi mencukupi. Indonesia memenuhi persyaratan untuk collapse (gagal). Namun semua masih bersikap tenang, berpikir bahwa doa yang banyak akan bisa mengatasi semua permasalahan. Sains? Rasio? Apakah itu?


Pergilah ke toko buku. Cobalah kalau bisa temukan satu buku tentang sains, tentang cara berpikir rasional, skeptis, kritis (seperti yang dipersyaratkan sains) untuk masyarakat awam (bukan anak-anak). Hampir bisa dipastikan, sulit sekali menemukannya, itupun kalau ada. Sebagai bangsa konsumen, kita hanya suka yang mudah-mudah. Kita selalu hanya mengambil kulit luarnya, misalnya mengikuti trend mode pakaian baru atau teknologi dan gadget terbaru. Tapi alam pikiran kita masih belum berubah. Masih percaya takhyul, malas membaca, kurang memiliki rasa ingin tahu, takut berpikir kritis dan rasional, dan sejenisnya. Jadinya ya seperti di awal tadi... teknologi digunakan untuk membuat film takhyul yang tidak bermutu atau menyebarkan ideologi yang membawa kemunduran. Menyukai teknologi, tapi curiga dan membenci mereka yang berpikir rasional, skeptis dan kritis. Maka jadilah bangsa konsumen, pemarah dan mudah tersinggung....

Monday, October 19, 2009

Suatu hari di Gramedia


Generasi 80-an tentu semua akrab dengan Gramedia. Ketika internet belum lazim, stasiun televisi hanya satu-satunya, informasi sangat terbatas karena sensor yang ketat, jumlah penerbit yang aktif dapat dihitung dengan jari, dan toko buku asing cenderung hanya menjual buku teks, maka Gramedia – dan Gunung Agung – adalah dua toko buku yang menjadi harapan terbesar mendapatkan buku-buku yang baik.
Ketika Balai Pustaka dan Pustaka Jaya mulai meredup, penerbit Gramedia memperkenalkan cerita-cerita klasik dengan komik Album Cerita Ternama, buku seri Elang, seri Kancil dan seri Cerita dari Lima Benua, novel pop terjemahan, dan pengantar filsafat yang ditulis beberapa budayawan dan pastur. Bisa dikatakan, Gramedia menemani generasi 80-an tumbuh dewasa, dengan memberikan bacaan yang cukup baik di tengah situasi yang terbatas pada saat itu.
Kini, generasi berikutnya masih didampingi oleh Gramedia, yang kini menjadi toko buku dan penerbit terbesar dengan jaringan toko di seluruh Indonesia, bahkan konon memiliki toko buku terbesar di Asean. Gramedia juga memiliki semboyan baru, yang tertulis pada tas plastik birunya yang elegan Enlightening and enriching the mind.., dan A place for smart people. Setiap akhir pekan, hampir seluruh tokonya seperti pasar yang dibanjiri keluarga dan pembeli, meninggalkan para pesaingnya dalam kesepian karena sedikitnnya pengunjung.
Pertanyaannya, di luar kemegahan toko-tokonya di seluruh Indonesia, benarkah ia telah membawa peran “enlightening and enriching the mind” ?

Buku apakah yang dijual Gramedia?
Pencerahan ialah bila seseorang dapat memperoleh pandangan dan pemikiran baru yang mempertanyakan kembali segala sesuatu yang dianggap telah mapan, pengetahuan yang mengarahkan kepada pencarian kebenaran, rasionalisme dan sikap kritis.
Dapatkah buku sejenis ini kita temukan disana?
Untuk itu saya mengunjungi salah satu tokonya yang cukup besar yaitu di Grand Indonesia yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk buku lokal, dan lantai kedua untuk buku impor. Bagian ini didominasi oleh buku manajemen, bisnis dan komputer, kemudian ada buku parenting, hobi, kesehatan, agama. Pilihan buku-buku yang sangat pragmatis: buku untuk membantu menjalankan hidup sehari-hari: bisnis, menjadi orang tua, menjaga kesehatan, mengisi waktu luang. Dimana buku yang dapat memberi saya pengetahuan tentang cara bekerjanya alam, kehidupan, pemikiran baru yang mencerahkan (mempertanyakan hal-hal yang telah mapan)?
Mungkin ada namun saya tak dapat menemukannya. Maka saya bertanya kepada bagian informasi,”Adakah buku Richard Dawkins terbaru, The Greatest Show on Earth?” Di layar komputer tidak tampak, berarti tidak ada. Di toko buku impor yang lain, buku ini sudah terpajang sejak beberapa minggu sebelumnya.
Buku-buku yang mencerahkan yang ditulis Jared Diamond, Michio Kaku, Carl Sagan, Richard Dawkins, E.O. Wilson, bahkan Sam Harris atau Christopher Hitchens tidak dapat ditemukan di bagian buku impor Gramedia, meskipun bertebaran di toko-toko buku impor lainnya seperti Periplus, Aksara dan Kinokuniya. Demikian pula buku-buku klasik tidak dapat ditemukan. Tidakkah buku-buku semacam itu yang sebenarnya mencerahkan dan memperkaya pemikiran? Mengapa Gramedia yang demikian megah dan berjaringan luas tidak menjualnya?
Di bagian buku lokal, terjemahan River Out of Eden diletakkan di bagian buku sastra. Mungkin karena judulnya berbau sastra? Sungai dari Firdaus mungkin seperti judul sebuah novel. Atau karena memang tidak ada tempat khusus untuk buku sains populer? Karena saya tidak menemukan buku sains populer yang lainnya.
Di lantai tempat buku lokal, area untuk buku agama menempati ruang yang cukup luas dan mudah dilihat. Mungkin memang bagian inilah yang paling diminati pengunjung, disamping fiksi.
Selain buku agama, bagian buku lokal menyediakan novel pop terjemahan dan chicklit, buku anak, sejarah, biografi, sosial politik, masakan dan kerajinan tangan, interior, kesehatan, bisnis dan motivasi, komputer dan buku pelajaran sekolah. Buku-buku yang berguna dan aman, namun tidak mencerahkan.

Beban Menjadi Besar
Kebebasan berpikir memerlukan bantuan bacaan yang mencerahkan, namun pencerahan merupakan suatu penyadaran: pemberitahuan bahwa ada pengetahuan atau pemikiran yang berbeda dari yang selama ini diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran, yang kebenarannya dapat diteliti sendiri oleh pembaca berdasarkan bukti-bukti atau argumentasi yang disodorkan dalam buku, bahwa sikap rasional dan kritis adalah penting dan perlu. Bacaan mencerahkan seringkali tidak sejalan dengan konservatisme dan kemapanan.Oleh karena itu menjual buku yang mencerahkan mengandung risiko.
Buku-buku yang dianggap “berbahaya” biasanya dapat ditemukan di toko-toko buku kecil, karena mereka kurang dikenal, atau pelanggannya terbatas pada segmen tertentu, sehingga dapat menanggung risiko lebih besar. Jika terjadi sesuatu, kerugian yang mereka alami akan lebih kecil dari toko buku besar. Mungkin itu sebabnya toko berjaringan besar hanya menjual buku yang aman. Karena bila terjadi sesuatu, kerugian yang harus ditanggung akan lebih besar: sorotan publik, yang akan mempengaruhi reputasi dan selanjutnya kunjungan, keamanan gedung-gedung, nasib ratusan pegawai....
Dari sisi ini dapat dimengerti bahwa maksud baik KPG menerjemahkan buku River Out of Eden harus dipromosikan sebagai buku yang akan meningkatkan keimanan pembaca, dan menyembunyikan fakta bahwa penulisnya adalah seorang hard ateis yang berjuang menyebarkan rasionalisme dengan bukti-bukti dari biologi serta kritik keras terhadap agama formal. Penerjemahan buku ini mungkin juga merupakan suatu pengorbanan, karena tampaknya buku ini tidak sukses di pasar.

Enlightening and Enriching the Mind
Toko buku yang berjaringan luas dapat berperan mencerahkan masyarakat jika ia menyediakan buku-buku yang mencerahkan pula. Namun sebagaimana kita lihat, peran itu tidak diambil oleh Gramedia, yang memilih untuk bersikap sangat menjaga keamanan, dengan hanya menjual buku-buku yang datar dan mendukung konservatisme, tidak memberikan alternatif pemikiran yang lain, bahkan tidak menjual buku-buku klasik, kecuali yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sangat disayangkan.
Untunglah kini dengan majunya teknologi informasi, pembaca dapat memperoleh informasi dan membeli buku apa saja yang diinginkan tanpa harus ke toko buku. Namun tetap disayangkan bahwa slogan enlightening and enriching the mind sebenarnya belum disandang oleh Gramedia...




Thursday, July 16, 2009

Arti dan Ketiadaan

Artikel berikut adalah dari Free Inquiry magazine, Volume 22, Number 1.

Diterjemahkan dari situs Secular Humanism:
Meaning and Nothingness -
A personal journey
by James A. Haught
Orang muda pencari kebenaran berjalan melalui tahap bertanya-tanya apakah hidup memiliki arti yang nyata. Mengapa kita disini? Mengapa alam semesta disini? Apakah ada tujuan dari semua ini? Ini adalah pertanyaan terakhir, meliputi yang lainnya.
Para pencari biasanya terjun dalam filsafat, dan menghabiskan bertahun-tahun bersusah payah membahas “keberadaan” dan “esensi” dan berdebat tentang bagaimana pikiran mendapatkan pengetahuan, bagaimana kita menentukan realitas, dan bagaimana bahasa membentuk pengertian kita.

Pada akhirnya, sebagian besar muncul (seperti yang terjadi pada saya) dengan jawaban yang tidak lebih baik dari ketika memulai – dan perasaan bahwa mereka telah memboroskan banyak waktu dan usaha. Omar Khayyan merasakan hal yang sama sembilan ratus tahun yang lalu:

Diriku ketika muda bersemangat mengunjungi mahaguru dan santo,
dan mendengarkan perdebatan agung
Tentang ini dan itu, namun selamanya
Muncul dari pintu yang sama seperti saat ku masuk

Bagaimanapun, meski sia-sia, saya pikir setiap orang cerdas dapat menunjuk pertanyaan mengenai arti hidup dengan rasional tanpa berkutat dalam rincian filosofis dan argumen. Itulah apa yang akan saya lakukan sekarang: hanya mengatakan apa yang dapat diketahui, sebagaimana saya melihatnya. Berikut adalah pandangan pribadi saya yang bersifat amatir.

Pertama, 90% umat manusia – penganut agama – tidak perlu bertanya mengenai arti hidup. Gereja mereka memberi mereka jawaban. Pendeta dan kitab suci mengatakan bahwa Tuhan yang magis, tak terlihat, menciptakan alam semesta dan menempatkan manusia disini untuk diuji, menetapkan peraturan untuk perilaku kita guna diikuti, dan menciptakan surga sebagai balasan bagi mereka yang mengikuti petunjuk setelah mereka mati serta neraka untuk tempat penyiksaan bagi pelanggar perintah setelah mereka mati. Beberapa penjelasan supernatural seperti ini diterima oleh mayoritas luas manusia.

Namun sebagian dari kita tidak dapat menelannya, karena tidak ada bukti. Tak seorangpun pernah membuktikan bahwa manusia terus hidup sesudah kematian. Tak ada yang dapat membuktikan bahwa manusia disiksa atau diberikan balasan atas kebaikannya di dunia kematian – juga tidak bahwa ada jiwa tak terlihat yang menyiksa dan memberi balasan.

Oleh karenanya, manusia yang tak mudah diyakinkan, yang dikutuk menjadi pencari kebenaran, selalu mencari arti hidup namun tidak pernah menemukannya. Saya telah melaluinya selama setengah abad. Sekarang, saya pikir saya dapat menyatakan bahwa terdapat dua jawaban jelas: (1) Hidup tak memiliki arti. (2) Hidup memiliki ribuan arti.

Pertama, kurangnya arti: tentang tujuan akhir atau transcending moral order, semua pemikir besar sejak zaman Yunani kuno telah gagal menemukannya. Telah ada teori tak terbatas, tapi tak ada jawaban jelas. Martin Heidegger menyimpulkan bahwa kita dikutuk untuk menghidupi seluruh hidup kita dan mati tanpa pernah mengetahui mengapa kita disini. Itulah eksistensialisme: semua yang sungguh-sungguh dapat kita ketahui ialah bahwa kita dan dunia material ada (eksis).

Ketika kita mempelajari fakta ilmiah kita menyadari bahwa kosmos dan biosfir kita tampak sangat tak peduli dengan kemanusiaan, dan tak peduli apakah kita kita hidup atau mati. Gempa bumi, topan dan letusan gunung berapi tak peduli apakah mereka mengenai atau tidak mengenai kita. Singa, cacing pita, dan bakteria menganggap kita makanan.

Mengenai moralitas, saya tidak berpikir hal itu ada terlepas dari manusia. Itu hanyalah peraturan-peraturan yang dikembangkan kebudayaan untuk diri mereka sendiri dalam upayanya untuk membuat hidup dapat berjalan baik.

Kaum konservatif berbicara mengenai “hukum alam”, namun sebenarnya tidak ada. Jika orang Ku Klux Klan menggantung orang hitam di cabang sebuah pohon, pohon tak peduli. Tidak juga tupai dan burung-burung di dahan. Tidak juga matahari atau bulan di atas. Alam tak peduli. Hanya manusia peduli.

Atau pikirkan hak-hak manusia. Thomas Jefferson mengatakan bahwa semua orang “diberikan oleh Pencipta mereka dengan hak-hak yang tidak dapat diambil atau dirampas.” Tapi saya pikir Jefferson salah. Tidak ada bukti bahwa Pencipta mengkaruniai seseorang dengan suatu hak-hak yang diberikan Tuhan. Hak-hak tak terampas apa yang dinikmati oleh orang hitam Afrika yang dijual ke perbudakan – termasuk mereka yang terdapat di perkebunan Monticello Jefferson? Hak-hak pemberian Tuhan apa yang menjamin enam juta bangsa Yahudi ke kamp kematian Nazi? Atau sejuta kelas menengah Kamboja yang dibunuh tentara petani Pol Pot? Atau satu juta suku Tutsi yang dibunuh Hutu? Atau anak-anak Uster yang dibunuh oleh bom kaum Katolik dan Protestan? Atau penduduk Hiroshima pada tahun 1945? Atau sekitar satu juta perempuan yang dibakar sebagai penyihir oleh Inkuisisi?

Apakah arti hidup bagi jutaan yang sekarat karena AIDS, jutaan yang mati karena epidemi flu tahun 1918 atau Wabah Hitam, atau 900 orang yang memberikan sianida kepada anak-anaknya di Jonestown, atau 90 orang yang terbakar dengan anak-anaknya di kamp David Koresh? Apa arti yang ada bagi ribuan rakyat Honduras yang tenggelam dalam badai banjir dua tahun yang lalu? Atau enambelas murid taman kanak-kanak yang dibunuh oleh seorang psikopat dengan pistol? Atau dua ribu perempuan Amerika yang dibunuh oleh suami atau kekasihnya setiap tahun? Atau dua puluh ribu bangsa Aztec yang setiap tahun dikorbankan untuk ular terbang yang tak terlihat? Atau dua puluh ribu yang dicekik kaum Thugs untuk dewi mereka Kali?

Tak berarti, tak berguna (senseless), pointless – semua horror ini memiliki absurditas yang fantastis tentangnya. Kata-kata seperti tujuan, hak, dan moral tak dapat dipakai. Kejahatan seperti ini membuat jelas dengan logika sederhana bahwa tidak ada Tuhan ayah yang maha kasih, penyayang, pengampun. Akal sehat membuktikan bahwa Tuhan dermawan modern adalah fantasi yang sebenarnya tidak ada.

Dalam bukunya Consilience, ahli sosiobiologi besar E.O. Wilson menunjuk bahwa terdapat dua cara mendasar dalam melihat realitas: empirisme, hanya mempercayai apa yang diberikan oleh bukti, dan transendentalisme, mempercayai bahwa ketuhanan or hukum (order) moral kosmik eksis terlepas dari manusia. Jika ada bukti yang pernah mendukung yang terakhir, katanya, “Penemuan akan menjadi sangat berarti dalam sejarah manusia”.

Cukup untuk pengenalan bahwa hidup adalah tak berarti. Sekarang untuk realisasi bahwa hidup memiliki banyak arti.

Jelas, realitas fisika, biologi, kimia, atom, sel, zat, radiasi – alam, dengan kata lain – memaksakan keteraturan fisik pada kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari hukum alam yang mengatur bintang-bintang pada planet yang mengorbit. Kematian lebih besar dari kita; kita tidak dapat mencegahnya. Karenanya, apapun arti yang ada harus digunakan untuk waktu sementara sewaktu kita hidup.

Jelas, terdapat tujuan fisik dan psikologis untuk hidup. Tubuh kita memerlukan makanan, pakaian,tempat berlindung, kesehatan, kenyamanan kasih sayang, dan keamanan dari kekerasan dan pencurian, dan seterusnya. Kita juga memerlukan hubungan dan reaksi sosial yang bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita. Dan kita memerlukan kebebasan demokratis agar kita dapat bicara jujur tanpa takut hukuman, dan hukum supaya kita tidak akan diperlakukan secara kejam. Ini adalah tujuan humanis dalam hidup: untuk memberikan nutrisi yang lebih baik, obat-obatan, perumahan, transportasi, pendidikan, keamanan, hak asasi, dan kebutuhan manusia lainnya.

Untuk mencapai “kehidupan baik” humanis, manusia memiliki kebutuhan tinggi untuk membesarkan anak-anak yang cerdas, sehat, perhatian, dan bertanggung jawab. Kadangkala, saya berpikir bahwa satu-satunya tujuan terbesar dalam hidup ini ialah membesarkan anak-anak yang baik.

Saya pikir kita memberi persetujuan mengenai arti hidup secara biologis psikologis. Kita percaya dalam hal mencegah peperangan, menyembuhkan penyakit, mengakhiri kelaparan, meningkatkan literasi, mengurangi kejahatan, menghindari kekurangan makan, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang membuat hidup menyenangkan – sampai kematian mengambil kita. Bagaimanapun, disamping dari tujuan berjenis “pekerjaan rumah tangga”, adakah arti yang lebih besar yang melampaui kebutuhan manusia? Saya pikir tidak. Paling tidak, saya tidak pernah dapat menemukan bukti apapun tentang itu. Kita hanya harus mencoba membuat kehidupan sebaik mungkin, dan menghindari horror, dan perhatian pada orang lain, dan membuat kegembiraan, meskipun tahu kekaburan sedang menjelang.

Tanam jerami selagi matahari bersinar, karena kegelapan menjelang. Carpe diem: renggut hari untuk saat ini; hidup sepenuhnya selagi anda bisa. Omar Khayyam melihat kebodohan dari mengagungkan diri sendiri, karena kebangkrutan atau sakit akan segera menghapus seseorang:”Bodoh, balasanmu tidaklah disini atau disana”. Jadi penyelesaian Omar adalah mencari kesenangan dalam puisi, anggur, dan kekasihnya “disampingku menyanyi dalam hutan belantara – dan hutan belantara cukup surgawi.” Sekitar 1400 tahun sebelum dia, skeptik besar Yunani Epicurus merasakan hal yang sama.

Jadi ini yang anda dapat: Kita yang bukan kaum ortodoks religius tidak dapat menemukan alasan yang mendasari eksistensi/keberadaan. Dan kita tahu bahwa kematian merangkak di depan. Jadi kita harus membuat masa antara sebaik mungkin sementara kita disini. Pandangan akan tujuan hidup seperti ini diringkaskan beberapa tahun yang lalu oleh judul seminar Unitarian:”Menari di Ngarai Gelap”. Dan Zorba Yunani mengajar kita, Apakah hidup, jika bukan untuk menari?

Indoktrinasi, Skeptisisme, Informasi

Ada seorang pembaca blog ini yang menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan indoktrinasi, hipnosis, selama maksudnya baik, dan skeptisme harus dihindari.
Baiklah. Mengapa saya tidak setuju dengan indoktrinasi, hipnosis?

Indoktrinasi ialah pengajaran kepada seseorang atau sekelompok orang tanpa memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk bersikap kritis. Dengan demikian indoktrinasi menutup diri dari pertanyaan, penelitian dan ketidakpercayaan. Setiap pertanyaan yang meragukan kebenaran doktrin yang diajarkan adalah tabu, tidak patut dan dosa. Hipnosis adalah salah satu metode untuk menanamkan indoktrinasi, dengan melumpuhkan syaraf-syaraf kesadaran dan rasio agar ajaran mudah masuk ke dalam otak tanpa disadari oleh pihak lain, sehingga tidak ada perlawanan. Metodenya antara lain melalui pembangkitan emosi, sehingga rasionalitas dan daya kritis seseorang diharapkan menghilang. Dengan demikian keduanya bersifat paksaan.
Sejak kecil, anak-anak telah didoktrin dengan ajaran tentang kepercayaan orang tuanya masing-masing secara intensif. Saya katakan didoktrin, karena tidak seperti ilmu pengetahuan alam atau ilmu sosial, dimana pertanyaan apapun tidak dilarang bahkan murid ditantang untuk membuktikan kebenaran pernyataan atau teori yang diajarkan, dalam hal kepercayaan, pertanyaan kritis dilarang, dan ketidakpercayaan bahkan keraguan saja diancam dengan pembakaran dalam neraka untuk selama-lamanya serta penghinaan dan pengucilan dari masyarakat. Disini doktrin memanfaatkan rasa takut untuk menanamkan ajaranya.
Sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk tidak bertanya dengan kritis, untuk takut berpikir bebas atau berbeda, untuk belajar menerima apapun yang diajarkan betapapun absurd dan bertentangan dengan logika dan fakta empiris. Itu sebabnya, para orang tua berusaha keras mengajarkan kepercayaannya kepada anak-anak sejak sedini mungkin. Sebelum mereka mengetahui apapun, mereka telah diberikan pengetahuan yang tidak terbantahkan kebenarannya dan tidak boleh dipertanyakan lagi. Pengetahuan, yang akan menjadi kepercayaan mereka di masa dewasa ini, akan menyelamatkan jiwa dan hidup mereka.
Kita hidup dalam dunia informasi yang bias. Jika seseorang malas belajar, puas dengan hidup ini dan tidak ingin mengetahui lebih banyak, dunia hanya memberikan informasi dari satu sisi. Yaitu informasi yang sesuai untuk sifat massa. Informasi tersebut belum tentu benar, namun dapat diterima massa karena bersifat menenangkan dan menghibur. (Ingat budaya massa?)
Pengetahuan dan kebudayaan berkembang, namun perkembangan itu seringkali perlahan, dan tidak semua orang dapat mengaksesnya pada saat awal perkembangannya.
Bayangkan anda hidup di zaman tidak lama setelah Galileo. Ketika itu semua orang masih percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta, karena demikian yang tergambar dari kitab suci dan dipercaya oleh gereja. Sebagian besar orang tidak mengetahui, bahwa sebenarnya bumilah yang mengitari matahari. Sudah tentu sebagian besar masyarakat juga mendukung gereja, yang menghukum Galileo atau siapapun yang berpendapat tidak sama dengan kepercayaan yang dianut masyarakat waktu itu. Kini kita mengetahui, bahwa masyarakat banyak itu, dan otoritas, salah. Dan perlu ratusan tahun hanya untuk memperjuangkan hal tersebut. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran:
Pendapat otoritas belum tentu benar
Pendapat mayoritas publik (massa) bisa salah.
Kitab suci tidak menceritakan sesuatu yang berarti tentang alam semesta
Kejadian di atas berulangkali terjadi. Setelah astronomi, kemudian kedokteran, lalu biologi. Kejadiannya sama. Mula-mula mereka menolak, kemudian karena bukti-bukti tidak dapat dibantah lagi akibat terlalu banyak, akhirnya terpaksa mengakui.
Namun kejadian-kejadian di atas membuka mata kita, bahwa percaya begitu saja tidak benar. Bahwa kita bisa menemukan banyak hal jika kita tidak menerima begitu saja indoktrinasi yang diberikan oleh otoritas. Bahwa dengan bersikap skeptik, kita dapat mengarah kepada kebenaran yang sesungguhnya.
Berapa banyak informasi yang anda miliki tentang cara bekerja alam semesta? Tentang luas alam semesta? Tentang sejarah agama? Tentang sejarah peradaban manusia? Adakah informasi tersebut mudah kita dapatkan?
Khususnya di Indonesia, informasi tersebut hampir tidak bisa didapatkan secara memuaskan. Mengapa? Karena informasi yang ada hanya dari satu sisi. Dan jika anda hanya mengetahui informasi dari satu sisi, bagaimana anda dapat menghadapi kritik dengan baik?
Catatan:
Menurut data dari industri perbukuan, penjualan buku agama mencapai 60% dari total penjualan buku di Indonesia. Dari sini saja sudah terlihat, penyebaran informasi apa yang paling banyak terdapat di masyarakat.

Monday, August 13, 2007

Critical Thinking, Books and Increased Intolerance

Ramainya sebuah jaringan toko buku besar di setiap mal yang saya kunjungi di Jakarta – dan kota-kota lain – seolah memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia telah gemar membaca dan mencari ilmu, sehingga menimbulkan harapan bahwa masyarakat semakin cerdas dan berwawasan luas. Namun mengapa kita merasakan adanya penurunan sikap toleransi dan persatuan, serta peningkatan konservatisme dalam beragama?

Saya teringat belasan tahun yang lalu ketika mengikut penataran P4 sebagai persyaratan memasuki perguruan tinggi. Saat pembahasan mengenai gotong royong, diberikan contoh pembangunan candi Borobudur. Salah seorang peserta dengan kritisnya meragukan pernyataan tersebut, dengan menanyakan bukti-buktinya dan menyebutkan bahwa berdasarkan sejarah selama ini di beberapa tempat lain di dunia, besar kemungkinan bahwa pembangunan candi tersebut tidak dilakukan dengan cara gotong royong yang penuh damai, namun dengan cara penindasan atau bahkan perbudakan, dan seterusnya. Ini hanyalah salah satu contoh.
Saya ingat, bahwa saat itu tidak seorangpun diantara kami memiliki semangat meragukan sesuatu dan meminta bukti sekuat teman saya tersebut. Kalau saya pikirkan kembali, hal itu tidaklah mengherankan. Karena dia bukan lulusan sekolah menengah di Indonesia. Ia telah biasa berpikir kritis.

Wartawan Belanda yang mewawancarai Pramudya Ananta Toer dalam buku Aku Terbakar Amarah Sendirian memiliki pertanyaan menarik yang tidak mungkin akan ditanyakan oleh wartawan Indonesia, antara lain,”Mengapa susah sekali mencari buku yang bagus disini?” “Mengapa generasi muda tidak pernah berpikir kritis, bahkan mendukung status quo, dan sangat taat beragama?” Pertanyaan seperti itu tidak pernah terpikirkan bagi orang Indonesia, karena berpikir kritis tidak begitu diharapkan, sebab dapat menimbulkan dosa atau menyinggung perasaan orang lain, dan semakin taat beragama semakin baik, bahkan sangat diharapkan.

Tidak dapat dipungkiri, meskipun secara fisik kita tampak telah modern, namun dari sisi budaya keadaannya terbalik: masyarakat semakin konservatif, pengendalian terhadap pikiran dan penampilan yang bertentangan agama semakin ketat.
Buku yang dijual di toko-toko buku yang luas di mal-mal 60% merupakan buku agama, disusul buku anak-anak, buku pelajaran, dan buku self help serta buku panduan. Sisanya barulah buku umum yang masih sangat terbatas dan relatif rendah mutunya.
Rakyat Indonesia yang kurang memiliki kemampuan berbahasa Inggris atau tidak mampu/ tidak bersedia mengakses internet dan hanya bergantung pada buku-buku berbahasa Indonesia yang dijual di toko-toko akan cukup sempit wawasannya. Mengapa? Karena 99% buku-buku terpenting yang sepatutnya dibaca untuk mendapatkan pengetahuan dasar sebagai seorang yang cukup berpendidikan dan cukup membaca tidak ada dalam bahasa Indonesia. Pemerintah tidak pernah berupaya menerjemahkan buku-buku klasik yang dapat memperluas wawasan, menambah pengetahuan dan menghaluskan budi pekerti warganya, dan penerbit umum tidak menerbitkan buku-buku terbaru tentang penemuan-penemuan penting terakhir dalam sains yang patut diketahui orang banyak, apalagi buku yang mendorong rasa ingin tahu, pemikiran rasional, dan pemikiran kritis. Setelah 62 tahun merdeka, benarkah kita berniat mencerdaskan bangsa?

Mengapa buku-buku bagus perlu? Mengapa daya kritis, rasa ingin tahu yang tinggi perlu? Karena meskipun secara politik negeri ini telah menganut sistem demokrasi, namun secara pendidikan, pemikiran, masih bersistem indoktrinasi. Indoktrinasi ialah suatu sistem pendidikan yang mengharapkan peserta didik untuk menuruti apa yang diajarkan, untuk lebih banyak patuh, mengendalikan diri untuk tidak menanyakan atau meragukan hal yang menurut masyarakat dianggap telah mapan atau tidak patut untuk disangsikan atau telah diterima sebagai kebenaran. Salah satu cara menciptakan hal ini ialah dengan menyediakan informasi (misalnya buku-buku) yang mendukung nilai-nilai tertentu saja. Dengan demikian informasi yang tersedia di masyarakat (toko buku misalnya) dapat dikatakan bias. Apabila masyarakat tidak memiliki informasi lain yang berbeda sebagai pembanding, maka informasi yang tersedia akan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Kritik terhadap satu-satunya kebenaran yang diketahui akan ditanggapi dengan emosional, kemarahan, dan bukan dengan meninjau secara dingin dan rasional dari berbagai sisi. Ketiadaan pengetahuan dasar yang memadai mengenai evolusi alam, budaya dan sejarah, membuat sebagian besar orang tidak dapat membuat penilaian secara obyektif dan bersifat apriori terhadap kritik dan cenderung menerima saja nilai-nilai yang dianut mayoritas tanpa mengevaluasinya kembali secara kritis dan teliti berdasarkan fakta dan ilmu pengetahuan terakhir.

Buku-buku atau informasi yang seimbang perlu agar masyarakat dapat bersikap kritis, rasional, skeptikal dan obyektif, sehingga sikap yang diambil telah berdasarkan infromasi yang memadai, tidak bias. Kebiasaan berpikir kritis juga akan mengarah kepada kejujuran pikiran, kebebasan dan penghargaan terhadap pendapat atau sikap hidup yang berbeda, sehingga akan timbul sikap toleransi.


Wednesday, September 20, 2006

REVISI KUHP : Perlindungan Berlebihan Atas Agama

Berita Kompas beberapa waktu yang lalu menyebutkan revisi KUHP meningkatkan jumlah delik agama dari 1 Pasal menjadi 8 Pasal:
Pasal 341

Penghinaan terhadap agama
Pasal 342
Menghina keagungan Tuhan
Pasal 343
Perbuatan menodai agama
Pasal 344
Perbuatan menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempel tulisan atau gambar yang bermuatan penghinaan

atau penodaan terhadap agama
Pasal 354
Penghasutan untuk meniadakan keyakinan terhadap agama
Pasal 346
Mengganggu, merintangi, atau membubarkan dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap

jamaah yang sedang menjalankan ibadah
Pasal 347
Mengejek orang yang sedang menjalankan ibadah atau mengejek petugas agama.
Pasal 348
Menodai atau merusak atau membakar bangunan tempat ibadah atau benda yang dipakai untuk beribadah.

Kaum beragama sangat takut akan kritik terhadap agama. Jika memang yakin akan kebenaran agamanya, mengapa harus demikian takut? Hanya mereka yang tidak yakin akan kebenaran keyakinannya yang takut dikritik.


Seragam Rok Panjang Anak Sekolah



Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang terhadang macet sehingga mobil harus berhenti agak lama di dekat sebuah sekolah, tiba-tiba saya merasa aneh : mengapa semua anak sekolah mengenakan rok panjang semata kaki padahal mereka tidak mengenakan jilbab? Mengapa di sekolah biasa (bukan madrasah) anak-anak perempuan tidak mengenakan rok sepanjang lutut, seperti zaman saya dulu?
Mungkin saya agak terlambat memperhatikan lingkungan sekitar. Supir saya menerangkan, bahwa di Tangerang – bagian provinsi Banten – semua anak sekolah harus mengenakan rok panjang, bahkan di sekolah anaknya, hari Sabtu bukan lagi waktunya berseragam pramuka, tapi waktunya mengenakan jilbab.
Apa artinya semua ini? Mengapa anak-anak dan remaja perempuan itu harus mengenakan rok panjang; apa salah kaki mereka sehingga harus ditutup dengan pakaian yang tidak praktis itu?
Tentulah alasannya bukan karena kaki mereka rusak sehingga tidak patut dilihat. Sebaliknya, pasti alasannya adalah untuk “kesopanan”, yang arahnya untuk membentuk “moralitas”, lebih jauh lagi, mungkin untuk memenuhi norma agama.
Padalah lihatlah. Mereka harus naik kendaraan umum, berjalan melewati tanah yang penuh debu, di tengah udara tropis yang panas. Seragam rok panjang tidak praktis untuk naik kendaraan umum, untuk berjalan di atas tanah atau aspal berdebu, karena bagian bawah rok bisa menyangkut di kendaraan dan membawa kotoran dan debu dari jalan yang dilalui.
Keadaan di atas menunjukkan bahwa negara ini semakin mundur – pemerintah pusat tidak mempunyai kekuasaan menghadapi peraturan yang dibuat pemerintah daerah, dan perempuan semakin dianggap sebagai obyek dan pembuat dosa, sehingga bahkan anak-anak sekolah pun tidak boleh memakai rok sepanjang lutut!